“Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah seorang manusia dari anak-cucu adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat), lalu memuji kepada Allah, mengucapkan salawat kepada Nabi saw Setelah itu, mengucapkan “Laa illah illallohul haliimul kariimu, subhaana.... (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat), setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)
“Ada seorang yang buta matanya menemui Nabi saw, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi saw bersabda, “Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat (shalat hajat). Setelah itu, berdoalah....” Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan (hajat), maka lakukanlah seperti itu (shalat hajat).” (HR Tirmidzi)
Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, bahkan bisa dikatakan keinginan tersebut selalu ada dan tidak terbatas. Dari mulai keinginan yang dibutuhkan menyangkut dirinya sampai kepada keinginan yang dibutuhkan menyangkut sebuah negara. Bagi yang beriman, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan tersebut, tidak serta merta selalu ditempuh melalui jalan usaha secara praktis belaka. Akan tetapi, ia akan terlebih dahulu mengadukannya kepada Allah SWT, sebab Dia adalah Dzat Yang Mahakaya, yang memiliki langit, bumi, dan seluruh alam semesta, Dzat Yang tidak bakhil dalam memberi kepada yang memohon dan meminta kepada-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah saw setiap kali menghadapi kesulitan beliau selalu mengadukannya kepada Allah SWT melalui shalat. Mengadu dan memohon kepada Tuhan yang tidak pernah sekali pun berada dalam lemah dan miskin. Kenapa? Karena shalat adalah jalan keluar bagi mereka yang memiliki kesulitan dan kebutuhan, juga sebagai media dimana seorang hamba mengadukan segala persoalan hidup yang dihadapinya.
Di dalam Al-Qur`an, Allah SWT berfirman, “Dan mintalah pertolongan kepada Tuhanmu dengan melaksanakan shalat dan dengan sikap sabar.” (QS Al-Baqarah <2>: 45)
Shalat hajat, ditetapkan atau disyariatkan yang secara khusus dikaitkan kepada ibadah bagi yang sedang memiliki kebutuhan atau permasalahan. Dan tentunya, ini lebih spesifik dibandingkan dengan shalat-shalat lain dan memiliki suatu keistimewaan sendiri dari Allah dan Rasulullah saw.
Selain itu, shalat hajat merupakan suatu cara paling tepat dalam mengadukan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seorang muslim. Shalat hajat merupakan salah satu jenis shalat yang disyariatkan di dalam Islam. Dasar hukum shalat hajat terdapat di dalam hadits Rasulullah saw. Para sahabat, ulama salaf, dan para shalihin biasa melakukan shalat hajat, terutama ketika mereka memiliki suatu kebutuhan, baik dalam situasi mendesak maupun dalam situasi biasa.
Dari beberapa keterangan yang terdapat di kitab-kitab, baik ulama salaf maupun khalaf (kontemporer), shalat ini telah banyak membuktikan keampuhan atau terkabulnya seluruh permohonan dari kebutuhan yang mereka pinta kepada Allah, sebagaimana yang terdapat pada bukuini. Shalat hajat juga merupakan bagian dari keringanan dan rahmat dari Allah SWT bagi hamba-Nya.
Pada praktiknya shalat hajat ini sangat mudah dan bisa dilakukan pada siang hari atau malam, tidak seperti pada shalat-shalat lainnya secara umum. Misalnya, shalat dhuha hanya bisa dilakukan pada saat matahari terbit sampai datangnya waktu zuhur, atau shalat tahajud yang hanya bisa dilakukan pada malam hari. Sebagai pembuktian atas kebenaran sabda Rasulullah terhadap shalat hajat, tidak terhitung banyaknya orang yang telah mendapatkan keajaiban dan terkabulnya permintaan atau hajat mereka. Bahkan, ada yang mendapatkan keajaiban dengan diturunkan malaikat kepadanya untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, sebagaimana yang terdapat di dalam bab “Bukti Dan Kisah Nyata Orang-Orang Mendapatkan Keajaiban Shalat Hajat”
About Me
KEUTAMAAN TAHAJUD
Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)
Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .
Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)
Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .
Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
TUGAS DAN FUNGSI SEKOLAH
Tugas dan Fungsi Pengelolaan Sekolah
A. Kepala Sekolah
Kepala Sekolah secara umum berfungsi sebagai Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan Motivator (EMASLIM).
1. Kepala Sekolah selaku pemimpin mepunyai tugas :
a. Menyusun perencanaan
b. Mengorganisasikan kegiatan
c. Mengarahkan kegiatan
d. Mengkoordinasikan kegiatan
e. Melaksanakan kegiatan
f. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan
g. Menentukan kebijaksanaan
h. Mengadakan rapat/ pertemuan
i. Mengambil keputusan
j. Mengatur proses belajar mengajar
k. Mengatur administrasi :
1) Kantor
2) Siswa.
3) Pegawai
4) Perlengkapan
5) Keuangan
l. Mengatur Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
m. Mengatur Hubungan Sekolah dengan Masyarakat dan dunia usaha
2. Kepala Sekolah selaku administrator bertugas menyelenggarakan administrasi :
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pengarahan
d. Pengkoordinasian
e. Pengawasan
f. Kurikulum
g. Kesiswaan
h. Kantor
i. Kepegawaian
j. Perlengkapan
k. Keuangan
l. Perpustakaan
m. Laboratorium
3. Kepala Sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai :
a. Kegiatan pembelajaran
b. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan / bimbingan karir
c. Kegiatan ekstrakurikuler
d. Kegiatan ketatausahaan
e. Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan dunia usaha dalam melaksanakan tugas Kepala Sekolah dapat mendelegasikan kepada Wakil-Wakil Kepala Sekolah
B. Wakil Kapala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sintang membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan sebagai berikut :
1. Menyusun perencanaan dan membuat program kegiatan serta pelaksanaannya
2. Pengorganisasian, ketenagaan
3. Pelaksanaan
4. Pengkoordinasian
5. Pengawasan
6. Penilaian
7. Identifikasi dan pengumpulan data
8. Penyusunan laporan-laporan
1. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dalam hal berikut :
a. Menyusun Program Pembelajaran.
b. Menyusun pembagian tugas guru.
c. Menyususn jadwal pelajaran.
d. Melakukan pengecekan kehadiran guru dalam kegiatan mengajar setiap jam pelajaran.
e. Menanggulangi kelas yang gurunya tidak hadir dalam KBM dengan cara menghadirkan invaler berserta tugasnya.
f. Mengatur pengadaan dan pengelolaan daftar hadir guru dalam proses pembelajaran.
g. Menyusun jadwal evaluasi belajar.
h. Menyusun pelaksanaan Ujian Nasional (UAN).
i. Menetapkan kreteria persyaratan naik kelas / tidak naik kelas.
j. Menetapkan jadwal penerimaan buku laporan pendidikan (Rapor) dan pemeberian Ijazah serta Surat Tanda Lulus.
k. Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan perangkat/ administrasi pembelajaran.
l. Membantu pengadaan administrasi guru, wali kelas yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan urusan kurikulum.
m. Menyediakan buku kemajuan kelas.
n. Mengatur pengadaan bahan laporan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar dan urusan kurikulum.
o. Mengumpulkan dan mendistribusikan informasi mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui atau dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
p. Menyusun laporan pelaksanaan pembelajaran.
2. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Pembinaan Kesiswaan (OSIS).
b. Melaksanakan Bimbingan, Pengarahan dan Pengendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tertib sekolah.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan disiplin dan tata tertib siswa serta menanggulangi segala kendalanya.
d. Membina dan melaksanakan koordnasi keamanan, dan kebersihan, ketertiban, keindahan, kerindangan, dan kekeluargaan.
e. Memberikan pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS.
f. Melakukan pembinaan dan pembimbingan pengurus OSIS.
g. Melakukan pembinaan dan pembimbingan pengurus OSIS dalam berorganisasi serta memantau realisasi kegiatannya.
h. Memberikan bantuan secara aktif dalam realisasi pelaksanaan Anggaran Dasar, Penyempurnaan Anggaran Rumah Tangga dan realisasi kegiatannya
i. Menyusun Progaram dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental.
j. Melaksanakan Pemilihan calon siswa Teladan dan calon siswa penerima bea siswa.
k. Mengadaka pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
l. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan secara berkala.
m. Mengatur / mengurus mutasi siswa
3. Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Massa (HUMAS)
Wakil Urusan Humas membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Kerja Humas
b. Memberikan penjelasan tentang kebijaksanaan sekolah, situasi dan perkembangan sekolah sesuai dengan pendelegasian Kepala Sekolah.
c. Mengatur dan menyelenggarakan hubungan baik antara sekolah dengan Komite Sekolah
d. Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah
e. Mengatur dan menyelenggarakan hubungan antara sekolah dengan orang tua / wali murid
f. Membina hubungan baik antar sesama personal sekolah, siswa dengan personal sekolah dan antarsesama siswa di sekolah
g. Mengkoordinasikan segala aspek dari setiap urusan / bidang ang akan diinformaskan kepada orang tua / wali atau Dinas Instansi lain baik negeri maupun swasta.
h. Membantu mewujudkan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan usaha dan kegiatan pengabdian masyarakat
i. Melayani pelayanan terhadap Tamu Dinas, yang berkepentingan dengan Kepala Sekolah, Guru, Siswa dan warga sekolah pada umumnya.
j. Menengani surat-surat undangan dinas baik kedalam maupun keluar
k. Menunjukkan guru untuk menjadi notulis dalam rapat Dinas an rapat persekolahan lainnya serta mempersiapkan / menyimpan Buku Notulen Rapat.
l. Membuat konsep-konsep Surat Dinas dan surat-surat lainnya yang berhubungan dengan urusan Humas serta mengarsipkannya.
m. Menjalin kerjasama kemitraaan antara sekolah dengan instansi lain.
n. Menyerap segala informasi baik dari sekolah maupun luar sekolah guna peningkatan pendidikan
o. Melaksanakan pemanggilan kepada orang Tua / Wali Siswa bagi siswa yang tidak masuk sekolah dan atau melakukan pelanggaran, tata tertib sekolah, bekerjasama dengan wali kelas, Guru BK, dan guru bidang studi.
p. Turut serta memantau prestasi guru dan personal sekolah lain serta membuat rekapitulasinya guna kepentingan penilaian kinerja pegawai dan pendanaannya
q. Turut serta memantau prestasi siswa dan membuat rekapitulasinya guna peningkatan disiplin serta pembinaan dan pembimbingan siswa
r. Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan kepada orang tua/ wali siswa
s. Menyusun laporan pelaksanaan hubungan massa secara berkala.
4. Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana
Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana Prasarana Sekolah membantu Kepala Sekolah dalam Urusan-urusan sebagai berikut :
a. Menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana sekolah
b. Mengatur pengadaan denah sekolah, organigram, papan data, kohor, atribut, label, dan lain-lain yang berhubungan dengan keperluan sekolah
c. Mengadministrasikan pendayagunaan sarana dan prasarana sekolah.
d. Pengelolaan pembiayaan alat-alat pembelajaran.
e. Mengatur dan atau mengkoordinasikan pelaksanaan pembangunan dan atau rehabilitasi gedung ,ruangan, halaman, kebun, meubeler, sarana prasarana sekolah lainnya
f. Melaksanakan pemeriksaan rutin terhadap sarana sekolah (barang habis pakai / barang tidak habis pakai) serta peningkatan ketertiban administrasinya
g. Menyusun laporan pelaksanaan Urusan / bidang Sarana dan Prasarana secara berkala
C. Ketua Bidang
1. Ketua Bidang Pengolahan Data dan Evaluasi
Ketua bidang pengolahan data dan evaluasi mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dalam menangani kegiatan-kegiatan berikut :
a. Mendata Program Pembelajaran
b. Mendata pembagian tugas
c. Membantu menanggulangi kelas yang gurunya tidak hadir dalam proses pembelajaran dengan cara menghadirkan invaler beserta tugasnya.
d. Mendata dan mengolah / mengevaluasi hasil belajar tiap akhir semester
e. Mendata pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN)
f. Mendata siswa yang naik kelas atau tidak naik kelas
g. Mengumpulkan dan mendistribusikan informasi mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui dan atau dilaksanakan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran atau pelaksanaan kurikulum
h. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan
2. Ketua Bidang Pelayanan Pembelajaran
Ketua Bidang Pelayanan Pembelajaran mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Progam Pembelajaran.
b. Menyusun Pembagian Tugas guru.
c. Menyusun jadwal pelajaran.
d. Bersama staf lainnya melakukan pengecekan kehadiran guru dalam proses pembelajaran pada setiap jam pelajaran.
e. Bersama staf lainnya menanggulangi kelas yang gurunya tidak hadir dalam proses pembelajaran dengan cara menghadirkan invaler berserta tugasnya.
f. Pengatur pengadaan dan pengelolaan daftar hadir guru dalam proses pembelajaran.
g. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolaha Data dan Evaluasi menerapkan kreteria persyaratan naik / tidak naik kelas.
h. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolahan data dan evaluasi menyusun jadwal evaluasi belajar.
i. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolahan Data dan evaluasi menyusun pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN).
j. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolahan Data dan Evaluasi membuat penerimaan / pemberian Buku Raport dan STTB.
k. Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan Silabus Pembelajaran.
l. Membantu pengadaan administrasi guru dan atau wali kelas yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan urusankurikulum.
m. Menyediakan Buku Absen dan Buku Kemajuan Kelas.
n. Mengatur pengadaan bahan laporan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan urusan kurikulum.
o. Bersama-sama Wakasek Kurikulum dan Bidang Pengolahan Data dan Evaluasi mengumpulkan dan mendistribusikan informasi mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui dan atau dilaksanakan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran dan atau pelaksanaan kurikulum.
p. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
3. Ketua Bidang Sistem Informasi dan management
Ketua Bidang sistem informasi dan menagement mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Humas dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Humas menyusun program kerja Humas.
b. Bersama-sama Wakasek Urusan Humas memberikan penjelasan tentang kebijakan Sekolah situasi dan perkembangan sekolah sesuai dengan pendelegasian Kepala Sekolah.
c. Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah.
d. Membina hubungan baik antara sesama personal sekolah, siswa dengan personal, Sekolah dan antarsesama siswa.
e. Menangani pelayanan terhadap tamu dinas yang berkepentingan dengan Kepala Sekolah , guru, siswa atau personal lainnya.
f. Menangani Surat / Undangan Dinas baik kedalam maupun keluar.
g. Membuat Konsep-konsep surat untuk rapat Dinas, dan rapat lainnya serta mengarsipkan.
h. Menyerap segala informasi baik dari dalam sekolah maupun dari luar, guna peningkatan mutu pendidikan
i. Melaksanakan pemanggilan kepada orang tua siswa / wali bagi siswa yang tidak masuk sekolah atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, bekerjasama dengan wali kelas dan guru BK seta guru mata pelajaran.
j. Menyusun Laporan pelaksanaan pendidikan kepada orang tua/wali siswa
k. Menyusun Laporan pelaksanaan hubungan Massa secara berkala.
4. Ketua Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat.
Ketua Bidang Peningkatan da Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakil Urusan Humas dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Berama-sama Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Humas menyusun program kerja Humas.
b. Bersama-sama Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Humas memberikanpenjelasan tentang kebijakan sekolah, situasi dan perkembangan sekolah dengan pendelegasian Kepala Sekolah.
c. Membantu mengatur dan menyelenggarakan hubungann baik antara Sekolah dengan Komite.
d. Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah.
e. Membina hubungan baik antar sesama peresonal sekolah, siswa dengan personal dan antar sesama siswa.
f. Mengkordinasikan segala aspek dari setiap urusan / bidang yang akan diinformasikan kepada orang tua / wali siswa atau instansi lain baik negeri maupun swasta.
g. Membantu mewujudkan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan usaha dan kegiatan pengabdian masyarakat.
h. Membantu menangani pelayanan terhadap Tamu Dinas yang berkepentingan dengan Kepala Sekolah, Guru, Siswa atau personal sekolah pada umumnya.
i. Bersama-sama Wakasek Urusan Humas menunjuk guru yang menjadi Notulis dalam rapat Komite / Orang Tua Siswa serta mengarsipkan dan menyimpan Buku Notulen Rapat.
j. Menjalin kerjasama kemitraan antar sekolah dengan Instansi lain guna kemajuan sekolah.
k. Menjalin kerjasama dengan masyarakat sekitar lingkungan sekolah
l. Menyerap segala informasi baik dari sekolah maupun luar sekolah guna peningkatan mutu pendidkan.
m. Melakukan pemanggilan kepada orang tua / wali siswa bagi siswa yang tidak masuk sekolah atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, bekerjasama dengan wali kelas, guru BK dan guru Umum.
n. Turut serta memantau persentasi guru dan personal sekolah lain serta membuat rekapitulasinya guna kepentingan penilaian kinerja pegawai dan pendanaanya.
o. Turut serta memantau prestasi siswa dan mebuat rekapitulasinya guna peningkatan disiplin serta pembinaan dan pembimbingan siswa.
p. Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan kepada orang tua siswa.
q. Menyusun laporan pelaksnaan hubungan massa secara berkala.
5. Ketua Bidang Organisasi
Ketua Bidang Organisasi mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Kesiswaan dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Kesiswaan menyusun program pembinaan kesiswaan / Organisasi Intra Sekolah (OSIS).
b. Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan penegendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tertib sekolah.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan disiplin dan tata tertib siswa serta menanggulangi segala kendalanya.
d. Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kerindangan dan kekeluargaan.
e. Memberikan pengarahan dan pemilihan pengurus OSIS.
f. Melakukan pembinaan dan pembimbingan pengurus OSIS dalam berorganisasi serta mementau realisasi kegiatannya.
g. Bersama-sama Wakasek Urusan Kesiswaan memberikan bantuan secara aktif dalam realisasi pelaksanaan Anggaran Dasar dan penyusunan Anggaran Rumah Tangga dan relisasi kegiatannya.
h. Menyusun Program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental.
i. Mengadakan pemilihan calon siswa teladan / berprestasi / penerima bea siswa.
j. Mengadakan pemilihan / penunjukkan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
k. Menyusun laboran pelaksanaan kegiatan secara berkala.
6. Ketua Bidang Tata Tertib
Ketua Bidang Tata Tertib mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Kesiswaan dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Kesiswaan menyusun program kerja kesiswaan / Organisasi Siswa Intra Sekolah ( OSIS ).
b. Melaksanakan bimbingan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan disiplin dan tata tertib siswa serta menanggulangi segala kendalannya.
d. Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kerindangan dan kekeluargaan.
e. Memberikan pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS
f. Memberikan bantuan secara aktif dalam relisasi pelaksanaan Anggaran Dasar dan penyempurnaan Anggaran Rumah Tangga dan realisasi kegiatan.
g. Menyusun Program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental.
h. Bersama-sama dengan Wakasek Urusan Kesiswaan dan Bidang Organisasi mengadakan pemilihan siswa untuk mwakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah.
i. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan secara berkala.
7. Ketua Bidang Sarana Gedung dan Lingkungan
Ketua Bidang sarana Gedung dan Lingkungan mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Sarana Prasarana dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana Prasarana menyusun Rencana Kerja dan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah.
b. Mengadministrasikan pemberdayaan sarana dan prasarana sekolah.
c. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana Prasarana Sekolah dalam pengelolaan alat-alat dan bahan-bahan Gedung dan lingkungan sekolah.
d. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana mengatur atau mengkoordinasikan pelaksanaan pembangunan atau rehabilitasi gedung, ruangan, meubeler, kebun sekolah, serta sarana lainnya.
e. Melaksanakan pemeriksaan rutin terhadap sarana dan prasarana sekolah (barang habis pakai atau tidak habis pakai) serta peningkatan tetib administrasi lainnya.
f. Menyusun laporan pelaksanaan secara berkala.
8. Ketua Bidang Sarana Pembelajaran
Ketua Bidang Sarana Pembelajaran mepunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Waka sek Urusan Sarana Prasarana Sekolah dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana menyusun Program Kerja dan kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran
b. Mengatur pengadaan denah-denah, Organigram, papan data, kohor, atribut, label-Label, dan sebagainya.
c. Mengadmnistrasikan, menata dan pendayagunaan sarana dan prasarana pembelajaran.
d. Mengelola alat-alat peraga , sumber relajar dan alat-alat pembelajaran
e. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana mengatur dan mengkoordinasikan alat-alat dan sarana prasarana untuk memperlancar proses pembelajaran.
f. Melakukan pemeriksaan rutin terhadap sarana dan prasarana pembelajaran (barang habis / tidak habis pakai) serta pengadministrasikan dan sebagainya.
g. Menyusun Laporan kegiatan secara berkala.
D. G u r u
Guru bertanggungjawab kepada Kepala Sekolah, dan mempunyai tugas pokok dan bertanggung jawab melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif dan efisien.
Tugas pokok dan fungsi guru adalah sebagai berikut :
a. Membuat / menyusun Program Pembelajaran
1) Program Tahunan
2) Program Semester
3) Menyusun Silabus
4) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran
5) Menetapkan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM)
b. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
c. Menyusun alat penilaian dan melaksanakan penilaian hasil belajar
d. Membuat dan mengisi daftar nilai siswa.
e. Melaksanakan Analisis Hasil Belajar
f. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.
g. Melaksanakan kegiaan bimbingan siswa dalam proses belajar mengajar
h. Membuat atau menggunakan alat peraga dalam kegaiatan belajar mengajar
i. Melakukan invosi serta kreatifitas yang menumbuhkan minat belajar siswa
j. Mengikuti kegiatan MGMP secara berkesinambungan
k. Mengkuti kegiatan pengembangan Kurikulum
l. Melaksanakan tugas terentu di sekolah
m. Melakukan pengembangan setiap bidang studi yang menjadi tanggungjawabnya
n. Membuat Lembaran Kerja Siswa (LKS)
o. Membuat catatan – catatan tentang kemajuan belajar siswa yang dibina
p. Meneliti daftar hadar sebelum memulai melaksanakan kegiatan mengajar
q. Melakukan /mengatur ruang kelas, ruang praktikum agar terjaga kebesihan dan keIndahan, keamanan, ketertiban serta kenyamanan bagin setiap guru mengajar
r. Disiplin waku mengajar agar target ketuntasan tercapai
s. Mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan pangkat
t. Mematuhi kode etik profesional guru
u. Disamping tugas pokok di atas, guru juga membantu Kepala Sekolah dalam urusan Penyelenggarakan Pendidikan di Sekolah.
E. Wali Kelas
Wali Kelas adalah Guru yang membantu Kepala Sekolah untuk membimbing siswa dalam mewujudkan disiplin kelas, sebagai manajer dan motivator untuk membangkitkan gairah /minat siswa untuk beprestasi di kelas. Tugas pokok dan fungsi wali kelas sebagai berikut :
a. Pengelola kelas
b. Mengenal dan memahami situasi kelasnya.
c. Menyelenggarakan Administrasikan kelas meliputi :
1) Denah tempat duduk siswa
2) Papan Absen siswa
3) Daftar Pelajaran di kelas
4) Daftar Piket Kelas,
5) Struktur Organisasi Pengurus Kelas
6) Tata Tertib siswa di kelas,
7) Buku Kemajuan Belajar.
8) Buku Mutasi Kelas.
9) Buku Peta Kelas
10) Buku Inventaris barang-barang di kelas
11) Buku Bimbingan kelas/ Kasus siswa
12) Buku Rapor
13) Buku Daftar Siswa Berprestai di kelas
d. Memberikan motivasi kepada siswa agar belajar sungguh-sungguh baik di sekolah maupun di luar sekolah.
e. Memantapkan siswa di kelasnya, dalam mel;aksanakan tatakrama, sopan santun, tata tertib baik di sekolah maupun di luar sekolah.
f. Menangani / mengatasi hambatan dan gangguan terhadap kelancaran kegiatan kelas dan atau kegiatan sekolah pada umumnya.
g. Mengerahkan siswa di kelasnya untuk mengikuti egiatan-kegiatan sekolah seperti Upacara Bendera, Ceramah, Pertandingan dan kegiatan lainnya.
h. Membimbing siswa kelasnya dalam melaksanakan kegiatan Ekstrakurikuler (Peran serta kelas dalam hal pengajuan calon pengurus OSIS, pemilihan ketua kelas, pemilihan siswa berprestasi, acara kelas, dll ).
i. Melakukan Home Visit (kujungan ke rumah / oang tua) atau kelauarganya.
j. Memberikan masukan dalam penentuan kenaikan kelas bagi siswa di kelasnya.
k. Mengisi / membagikan Buku Laporan Pendidikan (Rapor) kepada Wali siswa.
l. Mengajukan saran dan usul kepada pimpinan sekolah mengenai siswa yang menjadi bimbingannya.
m. Membuat Laporan tertulis secara rutin setiap bulan.
F. Koordinator- koordinator
1. Koordinator Matemaika
Koordinaor Matematika mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Kurikulum dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun program kegiatan mata pelajaran Matematika dilengkapi dengan alat peraga dan bahan.
b. Mengajukan usul dan saran pembagian tugas megajar mata kelompok mata pelajaran Matematika kepada bidang pelayanan pembelajaran melalui Wakasek Kurikulum.
c. Melaksanakan pengamanan sarana dan prasarana pembelajaran matematika.
d. Merekrut siswa yang berpotensi dibidang matematika untuk dikoordinasikan dengan koordinator Peningkatan Prestasi Akademik
e. Meningkatkan gairah siswa terhadap belajar dan atau penguasaan materi pelajaran matematika.
f. Mengajukan saran dan usul secara tertulis atau lisan kepada pimpinan sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi siswa dibidang matematika.
g. Menggiatkan latihan untuk mengikuti lomba bidang studi matematika.
h. Membuat laporan tertulis secara rutin tiap bulan baik tentang data maupun kegiatan dibidang pelajaran matematika.
2. Koordinator IPA ( Fisika, Kimia dan Biologi )
Koordinator IPA mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Kurikulum dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun pembelajaran serta kegiatan Mata Pelajaran IPA (Fisika, Kimia dan Biologi) yang disertai dengan alat, bahan dan fasilitas yang diperlukan
b. Mengajukan usul dan saran dalam pembagian tugas mengajar kelompok Mata Pelajaran IPA, kepada Bidang Pelayanan Pembelajaran.
c. Menyusun Program Kegiatan Laboratorium IPA dilengkapi dengan bahan dan alat praktikumnya.
d. Merekrut siswa yang berpotensi di bidang saint / IPA untuk dikoordinasikan dengan koordinator Peningkatan Prestasi Akademik.
e. Melakukan pengamanan sarana dan prasarana yang ada di laboratorium.
f. Meningkatkan gairah siswa dalam belajar / penguasan materi pelajaran IPA melalui penelitian, percobaan / eksprimen di Laboratorium.
g. Mengatur dan membuat jadwal penggunaan laboratorium IPA.
h. Mengajukan saran dan usul secara tertulis maupun lisan kepada pimpinan sekolah mengenai kondisi Laboratorium atau kepada yang didelegasikan.
i. Membuat Laporan tertulis secara rutin tentang keadaan alat dan bahan serta kegiatan-kegiatan praktek di Laboratorium.
3. Koordinator IPS (Ekonomi, Sosiologi, Kewarganegaraan, Sejarah dan Geografi)
Koordinator IPS mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek
Kurikulum dalam kegiatan-kegiatan berikut :
a. Menyusun program kegiatan Mata Pelajaran IPS (Ekonomi, Akuntansi, Sosiologi, Kewarganegaraan, sejarah dan Geografi) dilengkapi dangan media dan fasilitas pembelajaran yang diperlukan.
b. Mengajukan saran / usul pembagian tugas mengajar kelompok mata pelajaran IPS Kepada ketua bidang pelayanan pembelajaran melalui wakasek urusan kuriKulum.
c. Merekrut siswa yang berpotensi di bidang IPS untuk dikoordinasikan dengan koordinator Peningkatan Prestasi Akademik.
d. Menyusun Program kegiatan penelitian IPS dilengkapi dengan alat, media, bahan-bahan Melakukan pengamanan sarana / peralatan serta media pembelajaran IPS.
e. Meningkatkan gairah siswa dalam belajar / penguasaan materi pelajaran IPS melalui kegiatan penelitian, percobaan dan eksprimen.
f. Mengatur pembagian jadwal pengunaan alat dan bahan.
g. Mengajukan usul / saran kepada pimpinan sekolah mengenai alat, media dan bahan kepada yang didelegas.
h. Membuat laporan tertulis secara rutin tentang data maupun kegiatan yang dilakukan.
4. Koordinator Bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris)
Koordinaor Bahasa mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan koordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurkulum dalam Kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun program kegiatan pengajaran bahasa yang dilengkapi dengan media alat-alat bantu mengajar.
b. Mengajukan usul dan saran pembagian tugas mengajar kelompok mata pelajaran bahasa kepada ketua bidang pelayanan pembelajaran
c. Merekrut siswa yang berpotensi di bidang bahasa untuk dikoordinasikan dengan Koordinator Peningkatan Prestasi Akademik
d. Melakukan pengamanan sarana dan prasarana yang ada
e. Meningkakan gairah belajar siswa / penguasaan materi pelajaran melalui kegiatan dalam pembelajaran
f. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan sekolah, demi perbaikan proses Pembelajaran
g. Membuat Laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan yang dilakukan.
5. Koordinator Peningkatan Prestasi dan Akademik
Koordiator Peningkatan Prestasi Akademik mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Kerja Peningkatan Prestasi Akademik setiap tahunnya.
b. Melaksanakan saringan siswa yang berprestasi dibidang MIPA dan IPS maupun Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam kegiatan Olimpiade, bekerjasama dengan guru mata pelajaran terkait.
c. Meningkatkan gairah belajar siswa berhubungan dengan mata pelajaran, melalui Penelitian, percobaan / eksprimen baik di Laboratorium maupun di lapangan.
d. Mengajukan saran dan usul secara lisan / tertulis kepada pimpinan sekolah atau kepada yang didelegasikan.
e. Membuat laporan tertulis secara rurtin / tiap bulan tentang data dan kegiatan.
6. Koordinator Perpustakaan dan Budaya Baca
Koordinator Perpustakaan dan Budaya Baca mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan dalam kegiatan kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program kegiatan Perpustakaan dan Budaya Baca
b. Melaksanakan pengamanan sarana / peralatan yang ada di perpustakaan
c. Meningkatkan gairah baca siswa serta kunjungan perpustakaan
d. Menyusun perencanaan pengadaan pengadaan buku Perpustakaan
e. Meningkatkan kegiatan pelayanan di perpustakaan
f. Meningkatkan pemeliharaan dan perbaikan buku serta bahan pustaka.
g. Melaksanakan inventarisasi dan menata administrasi bahan perpustakaan
h. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan tentang sesuatu yang penting demi Pengembangan / peningkatan perpustakaan melalui yang didelegasikan.
i. Membuat laporan tertulis secara rutin setiap bulan tentang perkembangan perpustakaan.
7. Koordinator Bimbingan dan Konseling
Koordinator Bimbingan dan Konseling mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Penyusunan Program Kerja Bimbingan dan Konseling / bimbingan parir.
b. Berkoordinasi dengan Wali Kelas dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Siswa tentang kesulitan belajar.
c. Memberikan pelayanan Konseling lepada siswa agar lebih meningkatkan prestasinya dalam belajar.
d. Memberi Bimbingan Karir kepada siswa agar mereka mampun mengembangkan diri untuk dapat melanjutkan pendidikan secara tepat sesuai bakat dan minatnya.
e. Memberikan bantuan kapada siswa agar mereka paham terhadap dirinya dan lingkungannya serta pemecahan kesulitan yang mereka hadapi.
f. Memberikan pertimbangan dan saran kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lapangan pekerjaan yang sesuai pada masa depan
g. Mengadakan penilaian pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.
h. Menyusun statisik hasil penilaian bimbingan penyuluhan / bimbingan karir.
i. Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar praktik atau pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan.
j. Menyusun Laporan Pelaksanaan Bimbingan Penyuluhan / Bimbingan Karir.
8. Koordinator Keimanan dan Ketaqwaan (IMTAQ)
Koordinator IMTAQ membantu bertugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakasek Kesiswaan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Progam Kerja Pembinaan Keimanan dan Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Agama dan Kepercayaannya
b. Melakukan dan mengawasi kegiatan pembinaan IMTAQ masing-masing Agama dan Kepercayaannya
c. Mengkoordinasikan pembagian tugas pengawasan dengan Wali Kelas
d. Melakukan pengawasan terhadap sarana dan prasarana serta alat/ fasillitas yang ada
e. Meningkatkan gairah anak dalam kegiatan Baca AL-QUR’AN bagi siswa Muslim.
f. Merencanakan pengadaan alat dan sarana serta prasarana Ibadat, seperti Al-Qur’an serta buku lain yang bernuansa pembinaan keagamaan
g. Mengabsensi siswa dalam mengikuti kegiatan-kegiatan bekerjasama seluruh pembina yang telibat.
h. Mengajukan saran dan usul kepada pimpinan sekolah atau kepada yang didelegasikan mengenai hal-hal yang perlu perbaikan.
i. Membuat Laporan tertulis atas segala kegiatan yang telah dilaksanankan.
9. Koordinator Lingkungan Hidup
Koordinator Lingkungan Hidup mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan ber koordinasi dengan Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana Sekolah dalam kegiatan-kegiatn sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana Prasarana Sekolah menyusun rencana kebutuhan sekolah.
b. Menata administrasi inventarisasi dan pendayagunaan Sarana dan Prasarana Sekolah.
c. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana mengatur kegiatan kebersihan, keamanan, keindahan, keteraturan, lingkungan sekolah.
d. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana Sekolah melakkan pemeriksaan /pengecekan barang-barang / alat/ meubeler yang ada baik / rusak untuk dilaporkan setiap bulannya.
e. Melakukan pemeriksaan rutin terhadap kebutuhan barang-barang (barang habis pakai / tidak habis pakai) serta peningkatan pengadministrasiannya
f. Mengkoordinasikan pengawasan dengan Wali Kelas terhadap barang di kelas.
g. Melakukan pengamanan terhadap sarana dan prasarana sekolah pada umumnya.
h. Menyampaikan himbauan tertulis atau lisan kepada siswa untuk menjaga dan memelihara segala barang-barang milik negara.
i. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan sekolah mengenai kegiatan pemeliharaan / perbaikan sarana / barang yang rusak atau pengadaan barang yang diperlukan mendesak.
j. Membuat laporan Inventarisasi barang setiap tiga bulan bekerjasama dengan staf Tata Usaha Sekolah.
10. Koordinator Rumah Tangga
Koordinator Rumah Tangga Sekolah mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan para wakil Kepala Sekolah dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarpras, menyusun rencana kebutuhan sarpras.
b. Mengadministrasikan pendayagunaan sarpra sekolah
c. Menelola Pembiayaan Rumah Tangga Sekolah
d. Berperan aktif dalam kegiatan sekolah, khusus dalam pelayanan terhadap tamu sekolah.
e. Memeriksa secara rutin terhadap sarana prasarana (barang habis pakai / tidak habis pakai) serta peningkatan pemeliharaan / penyimpanan dan penggunaan.
f. Mengkoordinasikan pengawasan dengan Wali Kelas.
g. Melakukan pengamanan terhadap sarana dan prasarana sekolah.
h. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan sekolah mengenai pemanfaatan / penggunaan serta hal-hal lain demi kemajuan sekolah.
i. Menyusun Laporan tertulis secara berkala atas pelaksanaan kegiatan.
11. Pengelolaan Keuangan Sekolah
Pengelolaan Keuangan Sekolah Kepala Sekolah dibantu oleh Bendahara /pemegang Kas yang terdiri dari Bendahara Rutin sekolah dan Pembantu Bendahara Komite Sekolah :
a. Bendahara Rutin / Pemegang Kas Pembantu betugas :
1. Menerima Dana Rutin sekolah yang diajukan SPM oleh Kepala Sekolah.
2. Menyimpan Keuangan Sekolah di Rekening Sekolah
3. Mengeluarkan / membayar harus berdasarkan persetujuan/diketahui Kepala Sekolah.
4. Membayar Gaji guru dan pegawai setiap bulan
5. Menyetor / membayar Pajak (PPN dan PPh.) yang menjadi kewajiban
6. Menutup Buku Kas Umum (BKU) setiap Akhir bulan diketahui Kepala Sekolah.
7. Menyusun / membuat Laporan Pertanggungjawaban (SPJ) setiap akhir bulan dengan diketahui Kepala Sekolah.
8. Menyimpan dan mengarsipkan semua surat-surat / kwitansi penegeluaran dengan rapi dan teratur
9. Mengerjakan administrasi keuangan bedasarkan Kepmendagri No. 22 / 1983
10. Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah tentang kegiatan penegelolaan keuangan sekolah.
11. Menyusun Laporan Tahunan pada akhir tahun Anggaran.
b. Pembantu Bendahara / Pemegang Kas Komite Sekolah bertugas sebagai berikut :
1. Menerima uang yang bersumber dari Komite Sekolah serta membukukannya.
2. Menyimpan keuangan Komite Sekolah di Rekening Sekolah.
3. Mengeluarkan / membayar harus ada persetujuan Komite Sekolah dan diketahui oleh Kepala Sekolah.
4. Membayar insentif guru dan pegawai dilakukan 1 (satu) bulan sekali, yaitu kepada Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) dibayar setiap akhir bulannya.
5. Menutup Buku Kas setiap jenis penerimaan dan pengeluaran setiap akhir bulan diketahui oleh Ketua Komite Sekolah dan Kepala Sekolah.
6. Menyusun Laporan Pertanggungjawaban kepada Komite Sekolah setiap 3 (tiga) bulan / triwulan.
7. Menyimpan/ menata/ mengarsipkan semua surat-surat / kwitansi / tanda bukti Pengeluaran dengan rapi dan teratur.
8. Mengerjakan administrasi keuangan berdasarkan ketentuan dan petunjuk yang baku dan berlaku umum.
9. Berkoordinasi dengan Komite Sekolah, Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah dalam pengelolaan keuangan Komite Sekolah.
10. Menyusun Laporan Tahunan pada akhir tahun anggaran.
12. Tata Usaha Sekolah
Tata Usaha Sekolah mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah yang meliputi Kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Tata Usaha Sekolah
b. Mengelola Administrasi Sekolah
c. ¬administrasi perlengkapan / sarana prasarana sekolah
d. Administrasi Kesiswaan
e. Administrasi Kurikulum
f. Administrasi Kepegawaian
g. Administrasi Humas
h. Administrasi Ketatausahaan :
• Mengagendakan Surat masuk / keluar
• Mengetik surat
• Menggandakan surat-surat
• Mengarsipkan
• Menata penomoran surat
• Merapikan file-file surat
• Mengirim dan menerima surat-surat
i. Menyusun dan menyajikan data statistik sekolah.
j. Mengurus dokumen-dokumen sekolah.
k. Mengkoordinasikan dan melaksanakan 7 K di ruangan Kantor Sekolah.
l. Menyusun Laporan – laporan ketatausahaan sekolah.
A. Kepala Sekolah
Kepala Sekolah secara umum berfungsi sebagai Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan Motivator (EMASLIM).
1. Kepala Sekolah selaku pemimpin mepunyai tugas :
a. Menyusun perencanaan
b. Mengorganisasikan kegiatan
c. Mengarahkan kegiatan
d. Mengkoordinasikan kegiatan
e. Melaksanakan kegiatan
f. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan
g. Menentukan kebijaksanaan
h. Mengadakan rapat/ pertemuan
i. Mengambil keputusan
j. Mengatur proses belajar mengajar
k. Mengatur administrasi :
1) Kantor
2) Siswa.
3) Pegawai
4) Perlengkapan
5) Keuangan
l. Mengatur Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
m. Mengatur Hubungan Sekolah dengan Masyarakat dan dunia usaha
2. Kepala Sekolah selaku administrator bertugas menyelenggarakan administrasi :
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pengarahan
d. Pengkoordinasian
e. Pengawasan
f. Kurikulum
g. Kesiswaan
h. Kantor
i. Kepegawaian
j. Perlengkapan
k. Keuangan
l. Perpustakaan
m. Laboratorium
3. Kepala Sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai :
a. Kegiatan pembelajaran
b. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan / bimbingan karir
c. Kegiatan ekstrakurikuler
d. Kegiatan ketatausahaan
e. Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan dunia usaha dalam melaksanakan tugas Kepala Sekolah dapat mendelegasikan kepada Wakil-Wakil Kepala Sekolah
B. Wakil Kapala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sintang membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan sebagai berikut :
1. Menyusun perencanaan dan membuat program kegiatan serta pelaksanaannya
2. Pengorganisasian, ketenagaan
3. Pelaksanaan
4. Pengkoordinasian
5. Pengawasan
6. Penilaian
7. Identifikasi dan pengumpulan data
8. Penyusunan laporan-laporan
1. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dalam hal berikut :
a. Menyusun Program Pembelajaran.
b. Menyusun pembagian tugas guru.
c. Menyususn jadwal pelajaran.
d. Melakukan pengecekan kehadiran guru dalam kegiatan mengajar setiap jam pelajaran.
e. Menanggulangi kelas yang gurunya tidak hadir dalam KBM dengan cara menghadirkan invaler berserta tugasnya.
f. Mengatur pengadaan dan pengelolaan daftar hadir guru dalam proses pembelajaran.
g. Menyusun jadwal evaluasi belajar.
h. Menyusun pelaksanaan Ujian Nasional (UAN).
i. Menetapkan kreteria persyaratan naik kelas / tidak naik kelas.
j. Menetapkan jadwal penerimaan buku laporan pendidikan (Rapor) dan pemeberian Ijazah serta Surat Tanda Lulus.
k. Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan perangkat/ administrasi pembelajaran.
l. Membantu pengadaan administrasi guru, wali kelas yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan urusan kurikulum.
m. Menyediakan buku kemajuan kelas.
n. Mengatur pengadaan bahan laporan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar dan urusan kurikulum.
o. Mengumpulkan dan mendistribusikan informasi mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui atau dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
p. Menyusun laporan pelaksanaan pembelajaran.
2. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Pembinaan Kesiswaan (OSIS).
b. Melaksanakan Bimbingan, Pengarahan dan Pengendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tertib sekolah.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan disiplin dan tata tertib siswa serta menanggulangi segala kendalanya.
d. Membina dan melaksanakan koordnasi keamanan, dan kebersihan, ketertiban, keindahan, kerindangan, dan kekeluargaan.
e. Memberikan pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS.
f. Melakukan pembinaan dan pembimbingan pengurus OSIS.
g. Melakukan pembinaan dan pembimbingan pengurus OSIS dalam berorganisasi serta memantau realisasi kegiatannya.
h. Memberikan bantuan secara aktif dalam realisasi pelaksanaan Anggaran Dasar, Penyempurnaan Anggaran Rumah Tangga dan realisasi kegiatannya
i. Menyusun Progaram dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental.
j. Melaksanakan Pemilihan calon siswa Teladan dan calon siswa penerima bea siswa.
k. Mengadaka pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
l. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan secara berkala.
m. Mengatur / mengurus mutasi siswa
3. Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Massa (HUMAS)
Wakil Urusan Humas membantu Kepala Sekolah dalam urusan-urusan kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Kerja Humas
b. Memberikan penjelasan tentang kebijaksanaan sekolah, situasi dan perkembangan sekolah sesuai dengan pendelegasian Kepala Sekolah.
c. Mengatur dan menyelenggarakan hubungan baik antara sekolah dengan Komite Sekolah
d. Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah
e. Mengatur dan menyelenggarakan hubungan antara sekolah dengan orang tua / wali murid
f. Membina hubungan baik antar sesama personal sekolah, siswa dengan personal sekolah dan antarsesama siswa di sekolah
g. Mengkoordinasikan segala aspek dari setiap urusan / bidang ang akan diinformaskan kepada orang tua / wali atau Dinas Instansi lain baik negeri maupun swasta.
h. Membantu mewujudkan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan usaha dan kegiatan pengabdian masyarakat
i. Melayani pelayanan terhadap Tamu Dinas, yang berkepentingan dengan Kepala Sekolah, Guru, Siswa dan warga sekolah pada umumnya.
j. Menengani surat-surat undangan dinas baik kedalam maupun keluar
k. Menunjukkan guru untuk menjadi notulis dalam rapat Dinas an rapat persekolahan lainnya serta mempersiapkan / menyimpan Buku Notulen Rapat.
l. Membuat konsep-konsep Surat Dinas dan surat-surat lainnya yang berhubungan dengan urusan Humas serta mengarsipkannya.
m. Menjalin kerjasama kemitraaan antara sekolah dengan instansi lain.
n. Menyerap segala informasi baik dari sekolah maupun luar sekolah guna peningkatan pendidikan
o. Melaksanakan pemanggilan kepada orang Tua / Wali Siswa bagi siswa yang tidak masuk sekolah dan atau melakukan pelanggaran, tata tertib sekolah, bekerjasama dengan wali kelas, Guru BK, dan guru bidang studi.
p. Turut serta memantau prestasi guru dan personal sekolah lain serta membuat rekapitulasinya guna kepentingan penilaian kinerja pegawai dan pendanaannya
q. Turut serta memantau prestasi siswa dan membuat rekapitulasinya guna peningkatan disiplin serta pembinaan dan pembimbingan siswa
r. Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan kepada orang tua/ wali siswa
s. Menyusun laporan pelaksanaan hubungan massa secara berkala.
4. Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana
Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana Prasarana Sekolah membantu Kepala Sekolah dalam Urusan-urusan sebagai berikut :
a. Menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana sekolah
b. Mengatur pengadaan denah sekolah, organigram, papan data, kohor, atribut, label, dan lain-lain yang berhubungan dengan keperluan sekolah
c. Mengadministrasikan pendayagunaan sarana dan prasarana sekolah.
d. Pengelolaan pembiayaan alat-alat pembelajaran.
e. Mengatur dan atau mengkoordinasikan pelaksanaan pembangunan dan atau rehabilitasi gedung ,ruangan, halaman, kebun, meubeler, sarana prasarana sekolah lainnya
f. Melaksanakan pemeriksaan rutin terhadap sarana sekolah (barang habis pakai / barang tidak habis pakai) serta peningkatan ketertiban administrasinya
g. Menyusun laporan pelaksanaan Urusan / bidang Sarana dan Prasarana secara berkala
C. Ketua Bidang
1. Ketua Bidang Pengolahan Data dan Evaluasi
Ketua bidang pengolahan data dan evaluasi mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dalam menangani kegiatan-kegiatan berikut :
a. Mendata Program Pembelajaran
b. Mendata pembagian tugas
c. Membantu menanggulangi kelas yang gurunya tidak hadir dalam proses pembelajaran dengan cara menghadirkan invaler beserta tugasnya.
d. Mendata dan mengolah / mengevaluasi hasil belajar tiap akhir semester
e. Mendata pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN)
f. Mendata siswa yang naik kelas atau tidak naik kelas
g. Mengumpulkan dan mendistribusikan informasi mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui dan atau dilaksanakan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran atau pelaksanaan kurikulum
h. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan
2. Ketua Bidang Pelayanan Pembelajaran
Ketua Bidang Pelayanan Pembelajaran mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Progam Pembelajaran.
b. Menyusun Pembagian Tugas guru.
c. Menyusun jadwal pelajaran.
d. Bersama staf lainnya melakukan pengecekan kehadiran guru dalam proses pembelajaran pada setiap jam pelajaran.
e. Bersama staf lainnya menanggulangi kelas yang gurunya tidak hadir dalam proses pembelajaran dengan cara menghadirkan invaler berserta tugasnya.
f. Pengatur pengadaan dan pengelolaan daftar hadir guru dalam proses pembelajaran.
g. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolaha Data dan Evaluasi menerapkan kreteria persyaratan naik / tidak naik kelas.
h. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolahan data dan evaluasi menyusun jadwal evaluasi belajar.
i. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolahan Data dan evaluasi menyusun pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN).
j. Bersama-sama Wakasek Urusan Kurikulum dan Bidang Pengolahan Data dan Evaluasi membuat penerimaan / pemberian Buku Raport dan STTB.
k. Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan Silabus Pembelajaran.
l. Membantu pengadaan administrasi guru dan atau wali kelas yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan urusankurikulum.
m. Menyediakan Buku Absen dan Buku Kemajuan Kelas.
n. Mengatur pengadaan bahan laporan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan urusan kurikulum.
o. Bersama-sama Wakasek Kurikulum dan Bidang Pengolahan Data dan Evaluasi mengumpulkan dan mendistribusikan informasi mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui dan atau dilaksanakan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran dan atau pelaksanaan kurikulum.
p. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
3. Ketua Bidang Sistem Informasi dan management
Ketua Bidang sistem informasi dan menagement mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Humas dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Humas menyusun program kerja Humas.
b. Bersama-sama Wakasek Urusan Humas memberikan penjelasan tentang kebijakan Sekolah situasi dan perkembangan sekolah sesuai dengan pendelegasian Kepala Sekolah.
c. Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah.
d. Membina hubungan baik antara sesama personal sekolah, siswa dengan personal, Sekolah dan antarsesama siswa.
e. Menangani pelayanan terhadap tamu dinas yang berkepentingan dengan Kepala Sekolah , guru, siswa atau personal lainnya.
f. Menangani Surat / Undangan Dinas baik kedalam maupun keluar.
g. Membuat Konsep-konsep surat untuk rapat Dinas, dan rapat lainnya serta mengarsipkan.
h. Menyerap segala informasi baik dari dalam sekolah maupun dari luar, guna peningkatan mutu pendidikan
i. Melaksanakan pemanggilan kepada orang tua siswa / wali bagi siswa yang tidak masuk sekolah atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, bekerjasama dengan wali kelas dan guru BK seta guru mata pelajaran.
j. Menyusun Laporan pelaksanaan pendidikan kepada orang tua/wali siswa
k. Menyusun Laporan pelaksanaan hubungan Massa secara berkala.
4. Ketua Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat.
Ketua Bidang Peningkatan da Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakil Urusan Humas dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Berama-sama Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Humas menyusun program kerja Humas.
b. Bersama-sama Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Humas memberikanpenjelasan tentang kebijakan sekolah, situasi dan perkembangan sekolah dengan pendelegasian Kepala Sekolah.
c. Membantu mengatur dan menyelenggarakan hubungann baik antara Sekolah dengan Komite.
d. Menampung saran-saran dan pendapat masyarakat demi kemajuan sekolah.
e. Membina hubungan baik antar sesama peresonal sekolah, siswa dengan personal dan antar sesama siswa.
f. Mengkordinasikan segala aspek dari setiap urusan / bidang yang akan diinformasikan kepada orang tua / wali siswa atau instansi lain baik negeri maupun swasta.
g. Membantu mewujudkan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan usaha dan kegiatan pengabdian masyarakat.
h. Membantu menangani pelayanan terhadap Tamu Dinas yang berkepentingan dengan Kepala Sekolah, Guru, Siswa atau personal sekolah pada umumnya.
i. Bersama-sama Wakasek Urusan Humas menunjuk guru yang menjadi Notulis dalam rapat Komite / Orang Tua Siswa serta mengarsipkan dan menyimpan Buku Notulen Rapat.
j. Menjalin kerjasama kemitraan antar sekolah dengan Instansi lain guna kemajuan sekolah.
k. Menjalin kerjasama dengan masyarakat sekitar lingkungan sekolah
l. Menyerap segala informasi baik dari sekolah maupun luar sekolah guna peningkatan mutu pendidkan.
m. Melakukan pemanggilan kepada orang tua / wali siswa bagi siswa yang tidak masuk sekolah atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, bekerjasama dengan wali kelas, guru BK dan guru Umum.
n. Turut serta memantau persentasi guru dan personal sekolah lain serta membuat rekapitulasinya guna kepentingan penilaian kinerja pegawai dan pendanaanya.
o. Turut serta memantau prestasi siswa dan mebuat rekapitulasinya guna peningkatan disiplin serta pembinaan dan pembimbingan siswa.
p. Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan kepada orang tua siswa.
q. Menyusun laporan pelaksnaan hubungan massa secara berkala.
5. Ketua Bidang Organisasi
Ketua Bidang Organisasi mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Kesiswaan dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Kesiswaan menyusun program pembinaan kesiswaan / Organisasi Intra Sekolah (OSIS).
b. Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan penegendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tertib sekolah.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan disiplin dan tata tertib siswa serta menanggulangi segala kendalanya.
d. Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kerindangan dan kekeluargaan.
e. Memberikan pengarahan dan pemilihan pengurus OSIS.
f. Melakukan pembinaan dan pembimbingan pengurus OSIS dalam berorganisasi serta mementau realisasi kegiatannya.
g. Bersama-sama Wakasek Urusan Kesiswaan memberikan bantuan secara aktif dalam realisasi pelaksanaan Anggaran Dasar dan penyusunan Anggaran Rumah Tangga dan relisasi kegiatannya.
h. Menyusun Program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental.
i. Mengadakan pemilihan calon siswa teladan / berprestasi / penerima bea siswa.
j. Mengadakan pemilihan / penunjukkan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
k. Menyusun laboran pelaksanaan kegiatan secara berkala.
6. Ketua Bidang Tata Tertib
Ketua Bidang Tata Tertib mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Kesiswaan dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Kesiswaan menyusun program kerja kesiswaan / Organisasi Siswa Intra Sekolah ( OSIS ).
b. Melaksanakan bimbingan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan disiplin dan tata tertib siswa serta menanggulangi segala kendalannya.
d. Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kerindangan dan kekeluargaan.
e. Memberikan pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS
f. Memberikan bantuan secara aktif dalam relisasi pelaksanaan Anggaran Dasar dan penyempurnaan Anggaran Rumah Tangga dan realisasi kegiatan.
g. Menyusun Program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidental.
h. Bersama-sama dengan Wakasek Urusan Kesiswaan dan Bidang Organisasi mengadakan pemilihan siswa untuk mwakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah.
i. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan secara berkala.
7. Ketua Bidang Sarana Gedung dan Lingkungan
Ketua Bidang sarana Gedung dan Lingkungan mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Sarana Prasarana dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana Prasarana menyusun Rencana Kerja dan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah.
b. Mengadministrasikan pemberdayaan sarana dan prasarana sekolah.
c. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana Prasarana Sekolah dalam pengelolaan alat-alat dan bahan-bahan Gedung dan lingkungan sekolah.
d. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana mengatur atau mengkoordinasikan pelaksanaan pembangunan atau rehabilitasi gedung, ruangan, meubeler, kebun sekolah, serta sarana lainnya.
e. Melaksanakan pemeriksaan rutin terhadap sarana dan prasarana sekolah (barang habis pakai atau tidak habis pakai) serta peningkatan tetib administrasi lainnya.
f. Menyusun laporan pelaksanaan secara berkala.
8. Ketua Bidang Sarana Pembelajaran
Ketua Bidang Sarana Pembelajaran mepunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Waka sek Urusan Sarana Prasarana Sekolah dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana menyusun Program Kerja dan kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran
b. Mengatur pengadaan denah-denah, Organigram, papan data, kohor, atribut, label-Label, dan sebagainya.
c. Mengadmnistrasikan, menata dan pendayagunaan sarana dan prasarana pembelajaran.
d. Mengelola alat-alat peraga , sumber relajar dan alat-alat pembelajaran
e. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana mengatur dan mengkoordinasikan alat-alat dan sarana prasarana untuk memperlancar proses pembelajaran.
f. Melakukan pemeriksaan rutin terhadap sarana dan prasarana pembelajaran (barang habis / tidak habis pakai) serta pengadministrasikan dan sebagainya.
g. Menyusun Laporan kegiatan secara berkala.
D. G u r u
Guru bertanggungjawab kepada Kepala Sekolah, dan mempunyai tugas pokok dan bertanggung jawab melaksanakan proses belajar dan mengajar secara efektif dan efisien.
Tugas pokok dan fungsi guru adalah sebagai berikut :
a. Membuat / menyusun Program Pembelajaran
1) Program Tahunan
2) Program Semester
3) Menyusun Silabus
4) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran
5) Menetapkan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM)
b. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
c. Menyusun alat penilaian dan melaksanakan penilaian hasil belajar
d. Membuat dan mengisi daftar nilai siswa.
e. Melaksanakan Analisis Hasil Belajar
f. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.
g. Melaksanakan kegiaan bimbingan siswa dalam proses belajar mengajar
h. Membuat atau menggunakan alat peraga dalam kegaiatan belajar mengajar
i. Melakukan invosi serta kreatifitas yang menumbuhkan minat belajar siswa
j. Mengikuti kegiatan MGMP secara berkesinambungan
k. Mengkuti kegiatan pengembangan Kurikulum
l. Melaksanakan tugas terentu di sekolah
m. Melakukan pengembangan setiap bidang studi yang menjadi tanggungjawabnya
n. Membuat Lembaran Kerja Siswa (LKS)
o. Membuat catatan – catatan tentang kemajuan belajar siswa yang dibina
p. Meneliti daftar hadar sebelum memulai melaksanakan kegiatan mengajar
q. Melakukan /mengatur ruang kelas, ruang praktikum agar terjaga kebesihan dan keIndahan, keamanan, ketertiban serta kenyamanan bagin setiap guru mengajar
r. Disiplin waku mengajar agar target ketuntasan tercapai
s. Mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan pangkat
t. Mematuhi kode etik profesional guru
u. Disamping tugas pokok di atas, guru juga membantu Kepala Sekolah dalam urusan Penyelenggarakan Pendidikan di Sekolah.
E. Wali Kelas
Wali Kelas adalah Guru yang membantu Kepala Sekolah untuk membimbing siswa dalam mewujudkan disiplin kelas, sebagai manajer dan motivator untuk membangkitkan gairah /minat siswa untuk beprestasi di kelas. Tugas pokok dan fungsi wali kelas sebagai berikut :
a. Pengelola kelas
b. Mengenal dan memahami situasi kelasnya.
c. Menyelenggarakan Administrasikan kelas meliputi :
1) Denah tempat duduk siswa
2) Papan Absen siswa
3) Daftar Pelajaran di kelas
4) Daftar Piket Kelas,
5) Struktur Organisasi Pengurus Kelas
6) Tata Tertib siswa di kelas,
7) Buku Kemajuan Belajar.
8) Buku Mutasi Kelas.
9) Buku Peta Kelas
10) Buku Inventaris barang-barang di kelas
11) Buku Bimbingan kelas/ Kasus siswa
12) Buku Rapor
13) Buku Daftar Siswa Berprestai di kelas
d. Memberikan motivasi kepada siswa agar belajar sungguh-sungguh baik di sekolah maupun di luar sekolah.
e. Memantapkan siswa di kelasnya, dalam mel;aksanakan tatakrama, sopan santun, tata tertib baik di sekolah maupun di luar sekolah.
f. Menangani / mengatasi hambatan dan gangguan terhadap kelancaran kegiatan kelas dan atau kegiatan sekolah pada umumnya.
g. Mengerahkan siswa di kelasnya untuk mengikuti egiatan-kegiatan sekolah seperti Upacara Bendera, Ceramah, Pertandingan dan kegiatan lainnya.
h. Membimbing siswa kelasnya dalam melaksanakan kegiatan Ekstrakurikuler (Peran serta kelas dalam hal pengajuan calon pengurus OSIS, pemilihan ketua kelas, pemilihan siswa berprestasi, acara kelas, dll ).
i. Melakukan Home Visit (kujungan ke rumah / oang tua) atau kelauarganya.
j. Memberikan masukan dalam penentuan kenaikan kelas bagi siswa di kelasnya.
k. Mengisi / membagikan Buku Laporan Pendidikan (Rapor) kepada Wali siswa.
l. Mengajukan saran dan usul kepada pimpinan sekolah mengenai siswa yang menjadi bimbingannya.
m. Membuat Laporan tertulis secara rutin setiap bulan.
F. Koordinator- koordinator
1. Koordinator Matemaika
Koordinaor Matematika mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Urusan Kurikulum dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun program kegiatan mata pelajaran Matematika dilengkapi dengan alat peraga dan bahan.
b. Mengajukan usul dan saran pembagian tugas megajar mata kelompok mata pelajaran Matematika kepada bidang pelayanan pembelajaran melalui Wakasek Kurikulum.
c. Melaksanakan pengamanan sarana dan prasarana pembelajaran matematika.
d. Merekrut siswa yang berpotensi dibidang matematika untuk dikoordinasikan dengan koordinator Peningkatan Prestasi Akademik
e. Meningkatkan gairah siswa terhadap belajar dan atau penguasaan materi pelajaran matematika.
f. Mengajukan saran dan usul secara tertulis atau lisan kepada pimpinan sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi siswa dibidang matematika.
g. Menggiatkan latihan untuk mengikuti lomba bidang studi matematika.
h. Membuat laporan tertulis secara rutin tiap bulan baik tentang data maupun kegiatan dibidang pelajaran matematika.
2. Koordinator IPA ( Fisika, Kimia dan Biologi )
Koordinator IPA mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek Kurikulum dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun pembelajaran serta kegiatan Mata Pelajaran IPA (Fisika, Kimia dan Biologi) yang disertai dengan alat, bahan dan fasilitas yang diperlukan
b. Mengajukan usul dan saran dalam pembagian tugas mengajar kelompok Mata Pelajaran IPA, kepada Bidang Pelayanan Pembelajaran.
c. Menyusun Program Kegiatan Laboratorium IPA dilengkapi dengan bahan dan alat praktikumnya.
d. Merekrut siswa yang berpotensi di bidang saint / IPA untuk dikoordinasikan dengan koordinator Peningkatan Prestasi Akademik.
e. Melakukan pengamanan sarana dan prasarana yang ada di laboratorium.
f. Meningkatkan gairah siswa dalam belajar / penguasan materi pelajaran IPA melalui penelitian, percobaan / eksprimen di Laboratorium.
g. Mengatur dan membuat jadwal penggunaan laboratorium IPA.
h. Mengajukan saran dan usul secara tertulis maupun lisan kepada pimpinan sekolah mengenai kondisi Laboratorium atau kepada yang didelegasikan.
i. Membuat Laporan tertulis secara rutin tentang keadaan alat dan bahan serta kegiatan-kegiatan praktek di Laboratorium.
3. Koordinator IPS (Ekonomi, Sosiologi, Kewarganegaraan, Sejarah dan Geografi)
Koordinator IPS mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan Wakasek
Kurikulum dalam kegiatan-kegiatan berikut :
a. Menyusun program kegiatan Mata Pelajaran IPS (Ekonomi, Akuntansi, Sosiologi, Kewarganegaraan, sejarah dan Geografi) dilengkapi dangan media dan fasilitas pembelajaran yang diperlukan.
b. Mengajukan saran / usul pembagian tugas mengajar kelompok mata pelajaran IPS Kepada ketua bidang pelayanan pembelajaran melalui wakasek urusan kuriKulum.
c. Merekrut siswa yang berpotensi di bidang IPS untuk dikoordinasikan dengan koordinator Peningkatan Prestasi Akademik.
d. Menyusun Program kegiatan penelitian IPS dilengkapi dengan alat, media, bahan-bahan Melakukan pengamanan sarana / peralatan serta media pembelajaran IPS.
e. Meningkatkan gairah siswa dalam belajar / penguasaan materi pelajaran IPS melalui kegiatan penelitian, percobaan dan eksprimen.
f. Mengatur pembagian jadwal pengunaan alat dan bahan.
g. Mengajukan usul / saran kepada pimpinan sekolah mengenai alat, media dan bahan kepada yang didelegas.
h. Membuat laporan tertulis secara rutin tentang data maupun kegiatan yang dilakukan.
4. Koordinator Bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris)
Koordinaor Bahasa mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan koordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurkulum dalam Kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun program kegiatan pengajaran bahasa yang dilengkapi dengan media alat-alat bantu mengajar.
b. Mengajukan usul dan saran pembagian tugas mengajar kelompok mata pelajaran bahasa kepada ketua bidang pelayanan pembelajaran
c. Merekrut siswa yang berpotensi di bidang bahasa untuk dikoordinasikan dengan Koordinator Peningkatan Prestasi Akademik
d. Melakukan pengamanan sarana dan prasarana yang ada
e. Meningkakan gairah belajar siswa / penguasaan materi pelajaran melalui kegiatan dalam pembelajaran
f. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan sekolah, demi perbaikan proses Pembelajaran
g. Membuat Laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan yang dilakukan.
5. Koordinator Peningkatan Prestasi dan Akademik
Koordiator Peningkatan Prestasi Akademik mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Kerja Peningkatan Prestasi Akademik setiap tahunnya.
b. Melaksanakan saringan siswa yang berprestasi dibidang MIPA dan IPS maupun Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam kegiatan Olimpiade, bekerjasama dengan guru mata pelajaran terkait.
c. Meningkatkan gairah belajar siswa berhubungan dengan mata pelajaran, melalui Penelitian, percobaan / eksprimen baik di Laboratorium maupun di lapangan.
d. Mengajukan saran dan usul secara lisan / tertulis kepada pimpinan sekolah atau kepada yang didelegasikan.
e. Membuat laporan tertulis secara rurtin / tiap bulan tentang data dan kegiatan.
6. Koordinator Perpustakaan dan Budaya Baca
Koordinator Perpustakaan dan Budaya Baca mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan dalam kegiatan kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program kegiatan Perpustakaan dan Budaya Baca
b. Melaksanakan pengamanan sarana / peralatan yang ada di perpustakaan
c. Meningkatkan gairah baca siswa serta kunjungan perpustakaan
d. Menyusun perencanaan pengadaan pengadaan buku Perpustakaan
e. Meningkatkan kegiatan pelayanan di perpustakaan
f. Meningkatkan pemeliharaan dan perbaikan buku serta bahan pustaka.
g. Melaksanakan inventarisasi dan menata administrasi bahan perpustakaan
h. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan tentang sesuatu yang penting demi Pengembangan / peningkatan perpustakaan melalui yang didelegasikan.
i. Membuat laporan tertulis secara rutin setiap bulan tentang perkembangan perpustakaan.
7. Koordinator Bimbingan dan Konseling
Koordinator Bimbingan dan Konseling mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Penyusunan Program Kerja Bimbingan dan Konseling / bimbingan parir.
b. Berkoordinasi dengan Wali Kelas dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Siswa tentang kesulitan belajar.
c. Memberikan pelayanan Konseling lepada siswa agar lebih meningkatkan prestasinya dalam belajar.
d. Memberi Bimbingan Karir kepada siswa agar mereka mampun mengembangkan diri untuk dapat melanjutkan pendidikan secara tepat sesuai bakat dan minatnya.
e. Memberikan bantuan kapada siswa agar mereka paham terhadap dirinya dan lingkungannya serta pemecahan kesulitan yang mereka hadapi.
f. Memberikan pertimbangan dan saran kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lapangan pekerjaan yang sesuai pada masa depan
g. Mengadakan penilaian pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.
h. Menyusun statisik hasil penilaian bimbingan penyuluhan / bimbingan karir.
i. Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar praktik atau pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan.
j. Menyusun Laporan Pelaksanaan Bimbingan Penyuluhan / Bimbingan Karir.
8. Koordinator Keimanan dan Ketaqwaan (IMTAQ)
Koordinator IMTAQ membantu bertugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan Wakasek Kesiswaan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Progam Kerja Pembinaan Keimanan dan Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Agama dan Kepercayaannya
b. Melakukan dan mengawasi kegiatan pembinaan IMTAQ masing-masing Agama dan Kepercayaannya
c. Mengkoordinasikan pembagian tugas pengawasan dengan Wali Kelas
d. Melakukan pengawasan terhadap sarana dan prasarana serta alat/ fasillitas yang ada
e. Meningkatkan gairah anak dalam kegiatan Baca AL-QUR’AN bagi siswa Muslim.
f. Merencanakan pengadaan alat dan sarana serta prasarana Ibadat, seperti Al-Qur’an serta buku lain yang bernuansa pembinaan keagamaan
g. Mengabsensi siswa dalam mengikuti kegiatan-kegiatan bekerjasama seluruh pembina yang telibat.
h. Mengajukan saran dan usul kepada pimpinan sekolah atau kepada yang didelegasikan mengenai hal-hal yang perlu perbaikan.
i. Membuat Laporan tertulis atas segala kegiatan yang telah dilaksanankan.
9. Koordinator Lingkungan Hidup
Koordinator Lingkungan Hidup mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan ber koordinasi dengan Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana Sekolah dalam kegiatan-kegiatn sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana Prasarana Sekolah menyusun rencana kebutuhan sekolah.
b. Menata administrasi inventarisasi dan pendayagunaan Sarana dan Prasarana Sekolah.
c. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana mengatur kegiatan kebersihan, keamanan, keindahan, keteraturan, lingkungan sekolah.
d. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarana dan Prasarana Sekolah melakkan pemeriksaan /pengecekan barang-barang / alat/ meubeler yang ada baik / rusak untuk dilaporkan setiap bulannya.
e. Melakukan pemeriksaan rutin terhadap kebutuhan barang-barang (barang habis pakai / tidak habis pakai) serta peningkatan pengadministrasiannya
f. Mengkoordinasikan pengawasan dengan Wali Kelas terhadap barang di kelas.
g. Melakukan pengamanan terhadap sarana dan prasarana sekolah pada umumnya.
h. Menyampaikan himbauan tertulis atau lisan kepada siswa untuk menjaga dan memelihara segala barang-barang milik negara.
i. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan sekolah mengenai kegiatan pemeliharaan / perbaikan sarana / barang yang rusak atau pengadaan barang yang diperlukan mendesak.
j. Membuat laporan Inventarisasi barang setiap tiga bulan bekerjasama dengan staf Tata Usaha Sekolah.
10. Koordinator Rumah Tangga
Koordinator Rumah Tangga Sekolah mempunyai tugas membantu Kepala Sekolah dan berkoordinasi dengan para wakil Kepala Sekolah dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Bersama-sama Wakasek Urusan Sarpras, menyusun rencana kebutuhan sarpras.
b. Mengadministrasikan pendayagunaan sarpra sekolah
c. Menelola Pembiayaan Rumah Tangga Sekolah
d. Berperan aktif dalam kegiatan sekolah, khusus dalam pelayanan terhadap tamu sekolah.
e. Memeriksa secara rutin terhadap sarana prasarana (barang habis pakai / tidak habis pakai) serta peningkatan pemeliharaan / penyimpanan dan penggunaan.
f. Mengkoordinasikan pengawasan dengan Wali Kelas.
g. Melakukan pengamanan terhadap sarana dan prasarana sekolah.
h. Mengajukan usul dan saran kepada pimpinan sekolah mengenai pemanfaatan / penggunaan serta hal-hal lain demi kemajuan sekolah.
i. Menyusun Laporan tertulis secara berkala atas pelaksanaan kegiatan.
11. Pengelolaan Keuangan Sekolah
Pengelolaan Keuangan Sekolah Kepala Sekolah dibantu oleh Bendahara /pemegang Kas yang terdiri dari Bendahara Rutin sekolah dan Pembantu Bendahara Komite Sekolah :
a. Bendahara Rutin / Pemegang Kas Pembantu betugas :
1. Menerima Dana Rutin sekolah yang diajukan SPM oleh Kepala Sekolah.
2. Menyimpan Keuangan Sekolah di Rekening Sekolah
3. Mengeluarkan / membayar harus berdasarkan persetujuan/diketahui Kepala Sekolah.
4. Membayar Gaji guru dan pegawai setiap bulan
5. Menyetor / membayar Pajak (PPN dan PPh.) yang menjadi kewajiban
6. Menutup Buku Kas Umum (BKU) setiap Akhir bulan diketahui Kepala Sekolah.
7. Menyusun / membuat Laporan Pertanggungjawaban (SPJ) setiap akhir bulan dengan diketahui Kepala Sekolah.
8. Menyimpan dan mengarsipkan semua surat-surat / kwitansi penegeluaran dengan rapi dan teratur
9. Mengerjakan administrasi keuangan bedasarkan Kepmendagri No. 22 / 1983
10. Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah tentang kegiatan penegelolaan keuangan sekolah.
11. Menyusun Laporan Tahunan pada akhir tahun Anggaran.
b. Pembantu Bendahara / Pemegang Kas Komite Sekolah bertugas sebagai berikut :
1. Menerima uang yang bersumber dari Komite Sekolah serta membukukannya.
2. Menyimpan keuangan Komite Sekolah di Rekening Sekolah.
3. Mengeluarkan / membayar harus ada persetujuan Komite Sekolah dan diketahui oleh Kepala Sekolah.
4. Membayar insentif guru dan pegawai dilakukan 1 (satu) bulan sekali, yaitu kepada Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) dibayar setiap akhir bulannya.
5. Menutup Buku Kas setiap jenis penerimaan dan pengeluaran setiap akhir bulan diketahui oleh Ketua Komite Sekolah dan Kepala Sekolah.
6. Menyusun Laporan Pertanggungjawaban kepada Komite Sekolah setiap 3 (tiga) bulan / triwulan.
7. Menyimpan/ menata/ mengarsipkan semua surat-surat / kwitansi / tanda bukti Pengeluaran dengan rapi dan teratur.
8. Mengerjakan administrasi keuangan berdasarkan ketentuan dan petunjuk yang baku dan berlaku umum.
9. Berkoordinasi dengan Komite Sekolah, Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah dalam pengelolaan keuangan Komite Sekolah.
10. Menyusun Laporan Tahunan pada akhir tahun anggaran.
12. Tata Usaha Sekolah
Tata Usaha Sekolah mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah yang meliputi Kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun Program Tata Usaha Sekolah
b. Mengelola Administrasi Sekolah
c. ¬administrasi perlengkapan / sarana prasarana sekolah
d. Administrasi Kesiswaan
e. Administrasi Kurikulum
f. Administrasi Kepegawaian
g. Administrasi Humas
h. Administrasi Ketatausahaan :
• Mengagendakan Surat masuk / keluar
• Mengetik surat
• Menggandakan surat-surat
• Mengarsipkan
• Menata penomoran surat
• Merapikan file-file surat
• Mengirim dan menerima surat-surat
i. Menyusun dan menyajikan data statistik sekolah.
j. Mengurus dokumen-dokumen sekolah.
k. Mengkoordinasikan dan melaksanakan 7 K di ruangan Kantor Sekolah.
l. Menyusun Laporan – laporan ketatausahaan sekolah.
MAKALAH PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kualitassumber daya manusia. Karena keberhasilan dunia pendidikan sebagai faktor penentu tercapainya tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan yaitumencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut diperlukan sebagai bekal dalamrangka menyongsong datangnya era global dan pasar bebas yang penuhdengan persaingan. Untuk mencapai keberhasilan dalam dunia pendidikan,maka keterpaduan antara kegiatan guru dengan siswa sangat diperlukan. Olehkarena itu guru diharapkan mampu mengatur, mengarahkan, dan menciptakansuasana yang mampu mendorong motivasi siswa untuk belajar. Karena gurumerupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka berada dititik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan. Masalah pendidikan perlu mendapat perhatian khusus oleh Negara Indonesia yaitu dengan dirumuskannya Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan (2003: 7) yang berbunyi :
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan,membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangkamencerdaskankehidupanbangsa,bertujuanuntukmengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yangberiman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yangdemokratis serta bertanggung jawab.
Minat baca sangat diperlukan bagi semua orang karena selainmemperolehwawasandanpengetahuan Yangluasmembacajugamempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Belajar membaca merupakanusaha terus-menerus dan anak-anak yang melihat tingginya nilai membacadalam kegiatan pribadinya akan lebih giat belajar dibandingkan dengan yangtidak menemukan keuntungan dari kegiatan membaca. Membaca identikdengan mencari ilmu pengetahuan agar menjadi cerdas dan mengabaikannyaberarti kebodohan. Cara dan teknik seseorang dalam membaca selalumenunjukkan perbedaan. Ada yang membaca sambil mendengarkan radio, adayang sambil tiduran ada pula dengan cara yang lain yang penting mereka bisamengetahui isi dari buku yang dibaca.Lingkungan belajar juga berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalambelajar. Terutama sekolah yang merupakan lingkungan pendidikan formalyang mempunyai peran penting dalam mencerdaskan dan membimbing moralperilaku anak.
Guru merupakan tangan pertama yang langsung berhubungandengan siswa, sehingga dalam belajar guru harus menggunakan metodepembelajaran yang berbeda agar anak tidak jenuh. Selain itu keberhasilanbelajar dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung yaitu sarana danprasarana, kondisi fisiologis, dan kondisi psikologis.
B. Pembatasan Masalah
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini atau untuk lebih terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1. Pengetian dan Definisi membaca
2. Faktor-faktor yang menghambat Perkembangan minat baca
3. Bagaimana upaya menumbuhkan minat baca
4. faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca,
C. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Dalam melakukan suatu aktivitas manusia pasti mempunyai tujuan, hal ini dimaksudkan supaya aktivitasnya dapat terlaksana dengan baik, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah ;
1. Penulis ingin mengetahui dan mendalami pengertian atau definisi dari membaca;
2. Penulis ingin mengetahui manfaat dari membaca;
3. Penulis ingin mengetahui dari pengaruh perkembangan membaca
D. Sistematika Penulisan
Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini penulis mencari buku-buku, dan sumber lainnya termasuk dari internet, yang berhubungan dengan pengaruh membaca dan perkembangan membaca.
BAB II
PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA
A. Pengetian dan Definisi membaca
Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.
Bagi masyarakat yang hidup dalam babakan pasca industri, atau yang lazim disebut era sumber daya manusia, atau era sibermatika, seperti sekarang ini, kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah bukti, konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatannya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang hanya ada pada manusia, yakni daya nalarnya. Sebab daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini. Nalar manusia akan berkembang secara maksimal jika ia diasah melalui pendidikan. Dan jantung dari pendidikan adalah kegiatan berliterasi atau kegiatan baca-tulis. Dengan demikian kedudukan kemahiran berliterasi pada abad informasi seperti sekarang ini sesungguhnya merupakan modal utama bagi siapa saja yang berkehendak meningkatkan kemampuan serta kesejahteraanpenghidupannya.
Dalam dunia pendidikan kemahiran berliterasi merupakan hal yang sangat fundamental. Sebab semua proses belajar sesungguhnya didasarkan atas kegiatan membaca dan menulis, juga dengan melalui kegiatan literasi membaca dan menulislah kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai babakan jaman. Dengan demikian, dunia pendidikan dan persekolahan memiliki tugas untuk mengupayakan kehadiran salah satu aspek keterampilan berbahasa ini kepada para siswanya.
Hingga saat ini cukup banyak pengertian atau definisi yang telah dikemukakan oleh para pakar tentang membaca. Dari berbagai pengertian dan definisi membaca tersebut kita dapat mengklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, pengertian membaca yang ditarik sebagai interpretasi pengalaman membaca itu bermula dengan penemuan waktu dan berawal dengan pengelolaan tanda-tanda berbagai benda (membaca itu berawal dengan tanda dan pertanda). Kedua, definisi atau pengertian membaca yang ditarik dari interpretasi lambang grafis; membaca merupakan upaya memperoleh makna dari untaian huruf tertentu. Dan ketiga, definisi atau pengertian membaca yang ditarik dari keduanya, yakni membaca merupakan perpaduan antara pengalaman dan upaya memahami lambang-lambang grafis atau dari halaman bercetakan.
B. Faktor-Faktor Yang Menghambat Perkembangan Minat Baca
Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif anak terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang.
Sinambela (1993) mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.
Minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak anak masih kecil sebab minat membaca pada anak tidak akan terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca anak. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, setelah itu baru guru di sekolah, teman sebaya dan masyarakat.
Pemahaman terhadap teks yang dibaca dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor karakteristik materi bacaan dan karakteristik pembaca itu sendiri. Teks bacaan sangat berpengaruh terhadap pemahaman pembaca, ada teks yang tingkat kesulitannya rendah, sedang, dan tinggi. Oleh karena itu, tingkat keterbacaan teks (readibility) adalah salah satu syarat yang harus diperhatikan dalam memilih teks. Selain itu, kemenarikan dan keotentikan teks juga merupakan syarat untuk memilih teks yang baik.Karakteristik pembaca juga dapat mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap teks. Karakteristik pembaca yang dapat mempengaruhi pemahaman teks adalah: IQ, minat baca, kebiasaan, membaca yang jelek, dan minimnya pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif.
Hasil penelitian Saleh dkk (1995 dan 1996) melaporkan bahwa sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk nonton TV dibandingkan dengan membaca. Bahan bacaannyapun sebagian besar hanya membaca koran dan majalah. Tidak terlalu banyak orang yang membaca buku. Ini merupakan salah satu bukti bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih kalah dibandingkan dengan minat menonton. Bukti lain yang menunjukkan bahwa minat baca dikalangan kaum intelektual juga masih rendah adalah data kunjungan ke perpustakaan oleh mahasiswa yang memperlihatkan betapa sedikitnya mahasiswa yang memanfa-atkan perpustakaan. Data dari beberapa perpustakaan perguruan tinggi menunjukkan bahwa pengunjung perpustakaan tersebut tidak lebih dari 10 % dari jumlah mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa berkunjung ke perpustakaan tidak lebih dari 1 kali dalam sebulan. Mahasiswa lebih suka berkumpul di kantin daripada di perpustakaan.
Bunanta (2004) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca terutama sangat ditentukan oleh:
1. Faktor lingkungan keluarga dalam hal ini misalnya kebiasaan membaca keluarga di lingkungan rumah;
2. Faktor pendidikan dan kurikulum di sekolah yang kurang kondusif;
3. Faktor infrastruktur dalam masyarakat yang kurang mendukung peningkatan minat baca masyarakat;
4. Serta faktor keberadaan dan keterjangkauan bahan bacaan
Untuk mengatasinya keterbelakangan ini diperlukan pendidikan sejak dini, dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan di dalam keluarga merupakan pendorong minat baca yang utama. Minat baca seharusnya ditanamkan oleh orangtua sejak anak masih kecil. Cara yang paling mudah adalah mendongeng melalui buku cerita. Setelah seorang anak dapat membaca, diharapkan mereka akan berusaha mengetahui isi bacaan tanpa menunggu didongengi. Pada gilirannya mereka akan tertarik untuk membaca.
Faktor selanjutnya yang juga sangatberpengaruh adalah pendidikan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Pendidikan di sekolah mendorong anak membaca karena tuntutan pelajaran. Sementara, lingkungan turut mendorong minat baca karena seorang anak melakukan kegiatan sesuai yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Anak menjadi rajin membaca jika masyarakat di sekitarnya melakukannya.
Selain faktor-faktor di atas Faktor-faktor berikut ditengarai menghambat peningkatan minat baca dalam masyarakat dewasa ini (Leonhardt, 1997):
1. Langkanya keberadaan buku-buku anak yang menarik terbitan dalam negeri
2. Semakin jarangnya bimbingan orang tua yang suka mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak. Padahal kebiasaan ini merupakan kebiasaanya jaman dulu banyak dilakukan orang tua.
3. Pengaruh televisi yang bukannya mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi lebih betah menonton acara-acara televisi.
4. Harga buku yang semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat
5. Kurang tersedianya taman-taman bacaan yang gratis dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik.
Pernyataan dan fenomena diatas sangat relevan direnungkan dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa
C. Upaya Menumbuhkan Minat Baca
Secara nasional sejak tahun 1995 telah diciptakan kondisi yang mendukungpengembangan minat membaca, yakni dengan dicanangkannya Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Nasional, tanggal 14 September 1995, oleh Presiden Soeharto. Terakhir, pada tanggal 12 Nopember 2003 Presiden Megawati Soekarnoputri mencanangkan Gerakan Membaca Nasional.
Pencanangkan kedua hal tersebut selalu dikaitkan dengan acara/kegiatan perpustakaan, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca. Upaya-upaya tersebut nampaknya belum membuahkan hasil. Kelemahan dalam membacadan mendayagunakan informasi itu masih terus menjadi masalah. Hal itu kiranya tercermin dari tingkat pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dewasa ini.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh United Nation Development
Program (UNDP), pada tahun 1999 indeks pembangunan manusia Indonesia hanya menduduki peringkat ke-102 dari 162 negara yang diteliti. Pada tahun 2003 peringkat itu bukan bertambah baik, melainkan justru melorot menjadi peringkatke-112 dari 175 negara.
Upaya untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca ini harus terus dilakukan, khususnya dimulai dari anak-anak. Misalnya di lingkungan sekolah promosi membaca hendaknya dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Untuk meningkatkan minat baca di sekolah ada dua permasalahan yang mendasar harus diperhatikan yaitu:
1. Penyediaan dan Pembinaan Perpustakaan Sekolah yang Baik dan Lengkap. Secara umum kondisi perpustakaan sekolah saat ini masih belum memuaskan, banyak yang harus dibenahi. Negara kita adalah negara dengan penduduk besar dengan jumlah sekolah lebih dari 200.000 sekolah dari SD hingga SLTA (data Depdikbud tahun 1996/1997 jumlah sekolah adalah sebesar 220.066 sekolah). Pembenahan perpustakaan sekolah sebanyak itu tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu pembenahan tersebut harus dilakukan secara bertahap. Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain adalah :
Pembenahan ruang perpustakaan;
Pembinaan koleksi perpustakaan yang terdiri dari buku pelajaran pokok, buku pelajaran pelengkap, buku bacaan, dan buku sumber;
Tenaga pengelola perpustakaan sekolah (pustakawan).
2. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat baca. Disamping pembinaan perpustakaan sekolah, hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan dalam rangka meningkat-kan minat baca adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan minat membaca. Kegiatan tersebut dapat dikembang-kan, dan sangat bergantung kepada kreativitas dan inisiatif tenaga pendidik di sekolah. Beberapa kegiatan yang dianjurkan adalah:
Agar guru pustakawan menerbitkan daftar buku anak-anak;
Mengundang pustakawan dan para guru agar bekerjasama dalam merencanakan kegiatan promosi minat baca. Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 1 46;
Mengorganisasi lomba minat baca di sekolah.
Memilih siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak.
Melaksanakan program wajib baca di sekolah.
Menjalin kerjasama antar perpustakaan sekolah.
Memberikan tugas baca setiap minggu dan melaporkan hasil bacaannya. Menceritakan orang-orang yang sukses sebagai hasil membaca.
Menugaskan siswa untuk membuat abstrak dari buku-buku yang dibaca.
Menugaskan siswa belajar ke perpustakaan apabila guru tidak hadir.
Menerbitkan majalah/buletin sekolah.
Mengajarkan teknik membaca kepada siswa.
Memberikan waktu khusus kepada siswa untuk membaca.
Menyelenggarakan pameran buku secara periodik.
Dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Minat dan kegemaran membaca adalah syarat untuk menjadi bangsa maju. Oleh karena itu jika kita ingin menaikkan peringkat indeks pembangunan manusia (human developmentindex) tidak ada jalan lain selain melakukan upaya agar minat dan kegemaran membaca masyarakat, khususnya anak dan remaja, bisa meningkat. Pada gilirannya, jika kegemaran membaca ini sudah tinggi, maka kegemaran menulispun akan meningkat pula. Namun demikian kita harus jugaberupaya untuk mendorong agar minat dan kegemaran menulis dapat dilakukan. Semua upaya tersebut kita lakukan untuk menciptakan apa yang disebut dengan masyarakat yang gemar membaca (reading society) dan masyarakat yang gemarbelajar (learning society).
seperti sekarang ini, kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah bukti, konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatannya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang hanya ada pada manusia, yakni daya nalarnya. Sebab daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini.
B. Saran
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa membaca adalah prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu Pemerintah membuat inovasi-inovasi baru seperti halnya menetapkan Hari Kunjung Perpustakaandan Bulan Gemar Membaca Nasional, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca
DAFTAR PUSTAKA
Bunanta, Murti. 2004. Buku, mendongeng dan minat membaca. Pustaka Tangga. Jakarta. 232 p.
Depdikbud. (1989). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004. Standar Kompetensi. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas
Leonhardt, Mary. 1999. 99 cara menjadikan anak anda “keranjingan” membaca. Kaifa. Bandung. 176 p.
Saleh, AR dkk. (1995). Penelitian Minat Baca Masyarakat: Pulau Batam. Kerjasama antara Perpustakaan Nasional RI dengan Perpustakaan IPB, Jakarta: Perpusnas RI, 1995
Saleh, AR dkk. (1997). Penelitian Minat Baca Masyarakat di Jawa Timur. Kerjasama antara Perpustakaan Nasional RI dengan Perpustakaan IPB, Jakarta: Perpusnas RI, 1997.
Supriyoko, Ki. 2004. Minat Baca dan Kualitas Bangsa. Harian Kompas, Selasa, 23 Maret. Jakarta.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya jualah, makalah ini dapat diselesaikan guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Membaca 1 .
Dalam penulisan makalah ini, tentunya masih jauh dari sempurna. Hal ini dikarenakan keterbatasnya pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu dalam rangka melengkapi kesempurnaan dari penulisan makalah ini diharapkan adanya saran dan kritik yang diberikan bersifat membangun.
Pada kesempatan yang baik ini, tak lupa penulis menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, nasehat dan pemikiran dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada Drs. H. Rochmat, M.Pd. selaku Guru Pembimbing mata kuliah Metode Penelitian Bahasa Indonesia, seluruh teman dan sahabat-sahabatku yang selalu memberikan dorongan dan masukan serta bantuan baik moril maupun materil yang tak ternilai harganya.
Cikajang, April 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1
A. Latar Belakang Masalah ……………………………………..
B. Pembatasan Masalah …………………………………………
C. Tujuan Yang Ingin Dicapai …………………………………
D. Sistematika Penulisan ………………………………………... 1
2
3
3
BAB II PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA…………………… 4
A. Pengetian dan Definisi membaca ……………………………
B. Faktor-Faktor Yang Menghambat Perkembangan Minat Baca ……………………………………………………………
C. Upaya Menumbuhkan Minat Baca …………………………. 4
5
9
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………….. 12
A. Kesimpulan ……………………………………………………
B. Saran …………………………………………………………... 12
13
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………... 14
MAKALAH
PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Bahasa Indonesia
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun Oleh :
DEDI RUSTIANA
NIM. 09210962
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)SILIWANGI - BANDUNG
2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kualitassumber daya manusia. Karena keberhasilan dunia pendidikan sebagai faktor penentu tercapainya tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan yaitumencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut diperlukan sebagai bekal dalamrangka menyongsong datangnya era global dan pasar bebas yang penuhdengan persaingan. Untuk mencapai keberhasilan dalam dunia pendidikan,maka keterpaduan antara kegiatan guru dengan siswa sangat diperlukan. Olehkarena itu guru diharapkan mampu mengatur, mengarahkan, dan menciptakansuasana yang mampu mendorong motivasi siswa untuk belajar. Karena gurumerupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka berada dititik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan. Masalah pendidikan perlu mendapat perhatian khusus oleh Negara Indonesia yaitu dengan dirumuskannya Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan (2003: 7) yang berbunyi :
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan,membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangkamencerdaskankehidupanbangsa,bertujuanuntukmengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yangberiman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yangdemokratis serta bertanggung jawab.
Minat baca sangat diperlukan bagi semua orang karena selainmemperolehwawasandanpengetahuan Yangluasmembacajugamempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Belajar membaca merupakanusaha terus-menerus dan anak-anak yang melihat tingginya nilai membacadalam kegiatan pribadinya akan lebih giat belajar dibandingkan dengan yangtidak menemukan keuntungan dari kegiatan membaca. Membaca identikdengan mencari ilmu pengetahuan agar menjadi cerdas dan mengabaikannyaberarti kebodohan. Cara dan teknik seseorang dalam membaca selalumenunjukkan perbedaan. Ada yang membaca sambil mendengarkan radio, adayang sambil tiduran ada pula dengan cara yang lain yang penting mereka bisamengetahui isi dari buku yang dibaca.Lingkungan belajar juga berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalambelajar. Terutama sekolah yang merupakan lingkungan pendidikan formalyang mempunyai peran penting dalam mencerdaskan dan membimbing moralperilaku anak.
Guru merupakan tangan pertama yang langsung berhubungandengan siswa, sehingga dalam belajar guru harus menggunakan metodepembelajaran yang berbeda agar anak tidak jenuh. Selain itu keberhasilanbelajar dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung yaitu sarana danprasarana, kondisi fisiologis, dan kondisi psikologis.
B. Pembatasan Masalah
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini atau untuk lebih terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1. Pengetian dan Definisi membaca
2. Faktor-faktor yang menghambat Perkembangan minat baca
3. Bagaimana upaya menumbuhkan minat baca
4. faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca,
C. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Dalam melakukan suatu aktivitas manusia pasti mempunyai tujuan, hal ini dimaksudkan supaya aktivitasnya dapat terlaksana dengan baik, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah ;
1. Penulis ingin mengetahui dan mendalami pengertian atau definisi dari membaca;
2. Penulis ingin mengetahui manfaat dari membaca;
3. Penulis ingin mengetahui dari pengaruh perkembangan membaca
D. Sistematika Penulisan
Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini penulis mencari buku-buku, dan sumber lainnya termasuk dari internet, yang berhubungan dengan pengaruh membaca dan perkembangan membaca.
BAB II
PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA
A. Pengetian dan Definisi membaca
Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.
Bagi masyarakat yang hidup dalam babakan pasca industri, atau yang lazim disebut era sumber daya manusia, atau era sibermatika, seperti sekarang ini, kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah bukti, konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatannya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang hanya ada pada manusia, yakni daya nalarnya. Sebab daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini. Nalar manusia akan berkembang secara maksimal jika ia diasah melalui pendidikan. Dan jantung dari pendidikan adalah kegiatan berliterasi atau kegiatan baca-tulis. Dengan demikian kedudukan kemahiran berliterasi pada abad informasi seperti sekarang ini sesungguhnya merupakan modal utama bagi siapa saja yang berkehendak meningkatkan kemampuan serta kesejahteraanpenghidupannya.
Dalam dunia pendidikan kemahiran berliterasi merupakan hal yang sangat fundamental. Sebab semua proses belajar sesungguhnya didasarkan atas kegiatan membaca dan menulis, juga dengan melalui kegiatan literasi membaca dan menulislah kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai babakan jaman. Dengan demikian, dunia pendidikan dan persekolahan memiliki tugas untuk mengupayakan kehadiran salah satu aspek keterampilan berbahasa ini kepada para siswanya.
Hingga saat ini cukup banyak pengertian atau definisi yang telah dikemukakan oleh para pakar tentang membaca. Dari berbagai pengertian dan definisi membaca tersebut kita dapat mengklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, pengertian membaca yang ditarik sebagai interpretasi pengalaman membaca itu bermula dengan penemuan waktu dan berawal dengan pengelolaan tanda-tanda berbagai benda (membaca itu berawal dengan tanda dan pertanda). Kedua, definisi atau pengertian membaca yang ditarik dari interpretasi lambang grafis; membaca merupakan upaya memperoleh makna dari untaian huruf tertentu. Dan ketiga, definisi atau pengertian membaca yang ditarik dari keduanya, yakni membaca merupakan perpaduan antara pengalaman dan upaya memahami lambang-lambang grafis atau dari halaman bercetakan.
B. Faktor-Faktor Yang Menghambat Perkembangan Minat Baca
Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif anak terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang.
Sinambela (1993) mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.
Minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak anak masih kecil sebab minat membaca pada anak tidak akan terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca anak. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, setelah itu baru guru di sekolah, teman sebaya dan masyarakat.
Pemahaman terhadap teks yang dibaca dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor karakteristik materi bacaan dan karakteristik pembaca itu sendiri. Teks bacaan sangat berpengaruh terhadap pemahaman pembaca, ada teks yang tingkat kesulitannya rendah, sedang, dan tinggi. Oleh karena itu, tingkat keterbacaan teks (readibility) adalah salah satu syarat yang harus diperhatikan dalam memilih teks. Selain itu, kemenarikan dan keotentikan teks juga merupakan syarat untuk memilih teks yang baik.Karakteristik pembaca juga dapat mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap teks. Karakteristik pembaca yang dapat mempengaruhi pemahaman teks adalah: IQ, minat baca, kebiasaan, membaca yang jelek, dan minimnya pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif.
Hasil penelitian Saleh dkk (1995 dan 1996) melaporkan bahwa sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk nonton TV dibandingkan dengan membaca. Bahan bacaannyapun sebagian besar hanya membaca koran dan majalah. Tidak terlalu banyak orang yang membaca buku. Ini merupakan salah satu bukti bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih kalah dibandingkan dengan minat menonton. Bukti lain yang menunjukkan bahwa minat baca dikalangan kaum intelektual juga masih rendah adalah data kunjungan ke perpustakaan oleh mahasiswa yang memperlihatkan betapa sedikitnya mahasiswa yang memanfa-atkan perpustakaan. Data dari beberapa perpustakaan perguruan tinggi menunjukkan bahwa pengunjung perpustakaan tersebut tidak lebih dari 10 % dari jumlah mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa berkunjung ke perpustakaan tidak lebih dari 1 kali dalam sebulan. Mahasiswa lebih suka berkumpul di kantin daripada di perpustakaan.
Bunanta (2004) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca terutama sangat ditentukan oleh:
1. Faktor lingkungan keluarga dalam hal ini misalnya kebiasaan membaca keluarga di lingkungan rumah;
2. Faktor pendidikan dan kurikulum di sekolah yang kurang kondusif;
3. Faktor infrastruktur dalam masyarakat yang kurang mendukung peningkatan minat baca masyarakat;
4. Serta faktor keberadaan dan keterjangkauan bahan bacaan
Untuk mengatasinya keterbelakangan ini diperlukan pendidikan sejak dini, dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan di dalam keluarga merupakan pendorong minat baca yang utama. Minat baca seharusnya ditanamkan oleh orangtua sejak anak masih kecil. Cara yang paling mudah adalah mendongeng melalui buku cerita. Setelah seorang anak dapat membaca, diharapkan mereka akan berusaha mengetahui isi bacaan tanpa menunggu didongengi. Pada gilirannya mereka akan tertarik untuk membaca.
Faktor selanjutnya yang juga sangatberpengaruh adalah pendidikan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Pendidikan di sekolah mendorong anak membaca karena tuntutan pelajaran. Sementara, lingkungan turut mendorong minat baca karena seorang anak melakukan kegiatan sesuai yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Anak menjadi rajin membaca jika masyarakat di sekitarnya melakukannya.
Selain faktor-faktor di atas Faktor-faktor berikut ditengarai menghambat peningkatan minat baca dalam masyarakat dewasa ini (Leonhardt, 1997):
1. Langkanya keberadaan buku-buku anak yang menarik terbitan dalam negeri
2. Semakin jarangnya bimbingan orang tua yang suka mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak. Padahal kebiasaan ini merupakan kebiasaanya jaman dulu banyak dilakukan orang tua.
3. Pengaruh televisi yang bukannya mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi lebih betah menonton acara-acara televisi.
4. Harga buku yang semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat
5. Kurang tersedianya taman-taman bacaan yang gratis dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik.
Pernyataan dan fenomena diatas sangat relevan direnungkan dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa
C. Upaya Menumbuhkan Minat Baca
Secara nasional sejak tahun 1995 telah diciptakan kondisi yang mendukungpengembangan minat membaca, yakni dengan dicanangkannya Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Nasional, tanggal 14 September 1995, oleh Presiden Soeharto. Terakhir, pada tanggal 12 Nopember 2003 Presiden Megawati Soekarnoputri mencanangkan Gerakan Membaca Nasional.
Pencanangkan kedua hal tersebut selalu dikaitkan dengan acara/kegiatan perpustakaan, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca. Upaya-upaya tersebut nampaknya belum membuahkan hasil. Kelemahan dalam membacadan mendayagunakan informasi itu masih terus menjadi masalah. Hal itu kiranya tercermin dari tingkat pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dewasa ini.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh United Nation Development
Program (UNDP), pada tahun 1999 indeks pembangunan manusia Indonesia hanya menduduki peringkat ke-102 dari 162 negara yang diteliti. Pada tahun 2003 peringkat itu bukan bertambah baik, melainkan justru melorot menjadi peringkatke-112 dari 175 negara.
Upaya untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca ini harus terus dilakukan, khususnya dimulai dari anak-anak. Misalnya di lingkungan sekolah promosi membaca hendaknya dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Untuk meningkatkan minat baca di sekolah ada dua permasalahan yang mendasar harus diperhatikan yaitu:
1. Penyediaan dan Pembinaan Perpustakaan Sekolah yang Baik dan Lengkap. Secara umum kondisi perpustakaan sekolah saat ini masih belum memuaskan, banyak yang harus dibenahi. Negara kita adalah negara dengan penduduk besar dengan jumlah sekolah lebih dari 200.000 sekolah dari SD hingga SLTA (data Depdikbud tahun 1996/1997 jumlah sekolah adalah sebesar 220.066 sekolah). Pembenahan perpustakaan sekolah sebanyak itu tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu pembenahan tersebut harus dilakukan secara bertahap. Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain adalah :
Pembenahan ruang perpustakaan;
Pembinaan koleksi perpustakaan yang terdiri dari buku pelajaran pokok, buku pelajaran pelengkap, buku bacaan, dan buku sumber;
Tenaga pengelola perpustakaan sekolah (pustakawan).
2. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat baca. Disamping pembinaan perpustakaan sekolah, hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan dalam rangka meningkat-kan minat baca adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan minat membaca. Kegiatan tersebut dapat dikembang-kan, dan sangat bergantung kepada kreativitas dan inisiatif tenaga pendidik di sekolah. Beberapa kegiatan yang dianjurkan adalah:
Agar guru pustakawan menerbitkan daftar buku anak-anak;
Mengundang pustakawan dan para guru agar bekerjasama dalam merencanakan kegiatan promosi minat baca. Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 1 46;
Mengorganisasi lomba minat baca di sekolah.
Memilih siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak.
Melaksanakan program wajib baca di sekolah.
Menjalin kerjasama antar perpustakaan sekolah.
Memberikan tugas baca setiap minggu dan melaporkan hasil bacaannya. Menceritakan orang-orang yang sukses sebagai hasil membaca.
Menugaskan siswa untuk membuat abstrak dari buku-buku yang dibaca.
Menugaskan siswa belajar ke perpustakaan apabila guru tidak hadir.
Menerbitkan majalah/buletin sekolah.
Mengajarkan teknik membaca kepada siswa.
Memberikan waktu khusus kepada siswa untuk membaca.
Menyelenggarakan pameran buku secara periodik.
Dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Minat dan kegemaran membaca adalah syarat untuk menjadi bangsa maju. Oleh karena itu jika kita ingin menaikkan peringkat indeks pembangunan manusia (human developmentindex) tidak ada jalan lain selain melakukan upaya agar minat dan kegemaran membaca masyarakat, khususnya anak dan remaja, bisa meningkat. Pada gilirannya, jika kegemaran membaca ini sudah tinggi, maka kegemaran menulispun akan meningkat pula. Namun demikian kita harus jugaberupaya untuk mendorong agar minat dan kegemaran menulis dapat dilakukan. Semua upaya tersebut kita lakukan untuk menciptakan apa yang disebut dengan masyarakat yang gemar membaca (reading society) dan masyarakat yang gemarbelajar (learning society).
seperti sekarang ini, kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah bukti, konon para ahli ekonomi telah membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber kekuatannya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang hanya ada pada manusia, yakni daya nalarnya. Sebab daya nalar tersebut merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang semakin canggih dan berkembang ini.
B. Saran
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa membaca adalah prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu Pemerintah membuat inovasi-inovasi baru seperti halnya menetapkan Hari Kunjung Perpustakaandan Bulan Gemar Membaca Nasional, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca
DAFTAR PUSTAKA
Bunanta, Murti. 2004. Buku, mendongeng dan minat membaca. Pustaka Tangga. Jakarta. 232 p.
Depdikbud. (1989). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004. Standar Kompetensi. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas
Leonhardt, Mary. 1999. 99 cara menjadikan anak anda “keranjingan” membaca. Kaifa. Bandung. 176 p.
Saleh, AR dkk. (1995). Penelitian Minat Baca Masyarakat: Pulau Batam. Kerjasama antara Perpustakaan Nasional RI dengan Perpustakaan IPB, Jakarta: Perpusnas RI, 1995
Saleh, AR dkk. (1997). Penelitian Minat Baca Masyarakat di Jawa Timur. Kerjasama antara Perpustakaan Nasional RI dengan Perpustakaan IPB, Jakarta: Perpusnas RI, 1997.
Supriyoko, Ki. 2004. Minat Baca dan Kualitas Bangsa. Harian Kompas, Selasa, 23 Maret. Jakarta.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya jualah, makalah ini dapat diselesaikan guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Membaca 1 .
Dalam penulisan makalah ini, tentunya masih jauh dari sempurna. Hal ini dikarenakan keterbatasnya pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu dalam rangka melengkapi kesempurnaan dari penulisan makalah ini diharapkan adanya saran dan kritik yang diberikan bersifat membangun.
Pada kesempatan yang baik ini, tak lupa penulis menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, nasehat dan pemikiran dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada Drs. H. Rochmat, M.Pd. selaku Guru Pembimbing mata kuliah Metode Penelitian Bahasa Indonesia, seluruh teman dan sahabat-sahabatku yang selalu memberikan dorongan dan masukan serta bantuan baik moril maupun materil yang tak ternilai harganya.
Cikajang, April 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1
A. Latar Belakang Masalah ……………………………………..
B. Pembatasan Masalah …………………………………………
C. Tujuan Yang Ingin Dicapai …………………………………
D. Sistematika Penulisan ………………………………………... 1
2
3
3
BAB II PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA…………………… 4
A. Pengetian dan Definisi membaca ……………………………
B. Faktor-Faktor Yang Menghambat Perkembangan Minat Baca ……………………………………………………………
C. Upaya Menumbuhkan Minat Baca …………………………. 4
5
9
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………….. 12
A. Kesimpulan ……………………………………………………
B. Saran …………………………………………………………... 12
13
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………... 14
MAKALAH
PENGARUH PERKEMBANGAN MEMBACA
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Bahasa Indonesia
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun Oleh :
DEDI RUSTIANA
NIM. 09210962
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)SILIWANGI - BANDUNG
2011
CAKUPAN SEMANTIK
Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Dari uraian di atas; kita dapat menyimpulkan bahwa makna bahasa, khususnya makna kata, terpengaruh oleh berbagai konteks. Makna kata dapat dibangun dalam kaitannya dengan benda atau objek di luar bahasa. Dalam konsepsi ini, kata berperan sebagai label atau pemberi nama pada benda-benda atau objek-objek yang berada di alam semesta. Makna kata juga dapat dibentuk oleh konsepsi atau pembentukan konsepsi yang terjadi dalam pikiran pengguna bahasa. Proses pembentukannya berkait dengan pengetahuan atau persepsi penggunaan bahasa tersebut terhadap fenomena, benda atau peristiwa yang terjadi di luar bahasa. Dalam konteks ini, misalnya penggunaan bahasa akan tidak sama dalam menafsirkan makna kata demokrasi karena persepsi dan konsepsi mereka berbeda terhadap kata itu. Selain kedua konsepsi itu, makna kata juga dapat dibentuk oleh kaitan antara stimulus, kata dengan respons yang terjadi dalam suatu peristiwa ujaran.
Beranjak dari ketiga konsepsi ini maka kajian semantik pada dasarnya sangat bergantung pada dua kecenderungan. Pertama, makna bahasa dipengaruhi oleh konteks di luar bahasa, benda, objek dan peristiwa yang ada di alam semesta. Kedua, kajian makna bahasa ditentukan oleh konteks bahasa, yakni oleh aturan kebahasaan suatu bahasa.
Penamaan
Uraian di atas menunjukkan bahwa beberapa konsep dasar dalam semantik penting untuk dipahami. Contoh, pengertian sense berbeda dari pengertian reference. Pertama, merujuk kepada hubungan antar kata dalam suatu sistem bahasa dilihat dari kaitan maknanya. Sedangkan yang kedua merujuk kepada hubungan antara kata dengan benda, objek atau peristiwa di luar bahasa dalam pembentukan makna kata.
Begitu pula dengan pengertian tentang kalimat, ujaran dan proposisi perlu dipahami dalam kajian antik. Dalam keseharian, kerap tidak kita bedakan atau kalimat dengan ujaran. Kalimat sebagaimana kita pahami satuan tata bahasa yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat. Sedangkan ujaran dapat terdiri dari satu kata, frase atau kalimat yang diujarkan oleh seorang penutur yang ditandai oleh adanya unsur fonologis, yakni kesenyapan. dalam semantik kedua konsep ini memperlihatkan sosok kajian makna yang berbeda. Makna ujaran, misalnya lebih banyak dibahas dalam semantik tindak tutur. Peran konteks pembicaraan dalam mengungkapkan makna ujaran sangat penting. Sementara kajian makna kalimat lazimnya lebih memusatkan pada konteks tatabahasa dan unsur lain yang dapat dicakup dalam tata bahasa dalam bahasa Inggris, misalnya unsur waktu dapat digramatikakan yang terwujud dalam perbedaan bentuk kata kerja.
Mengingat pentingnya konsep-konsep itu, Anda sebagai pembelajar semantik hendaknya mencermati batasan dan penerapan konsep itu dalam kajian makna bahasa.
PERAN KONTEKS DALAM PEMAKNAAN BAHASA
Relativitas Bahasa, Pemaknaan Bahasa
Dari perbincangan kita dalam bagian modul di atas terlihat bahwa bahasa sangat erat kaitannya dengan budaya. Keduanya ibarat dua muka dari satu mata uang. Sebagaimana diyakini oleh sebagian ahli bahasa, language is a part of culture.
Pandangan seperti ini, ternyata berimbas pula pada kajian makna bahasa. Para pakar di bidang semantik cenderung terbagi ke dalam 2 kubu dalam melihat masalah ini. Pertama, kelompok yang menyatakan bahwa kajian makna bahasa seharusnya terlepas dari konteks (dalam cakupan yang luas adalah budaya) mengingat begitu banyak unsur konteks yang tidak dapat diwadahi oleh kaidah semantik. Pandangan ini tentu lebih cenderung dianut oleh pakar yang memusatkan kajiannya pada semantik bahasa (Linguistic Semantics). Para pakar dalam bidang ini lebih cenderung mengkaji makna bahasa hanya dari sisi peran kata dan kaitan antara kata dalam sebuah kalimat dalam membentuk makna bahasa. Kalaupun ada unsur konteks yang dimasukkan ke dalam kajiannya hanya sebatas unsur-unsur dari bahasa, seperti waktu yang dapat digramatikalkan. Dengan demikian, kajiannya cenderung mengurangi konteks penggunaan bahasa.
Kedua, kelompok yang menegaskan bahwa konteks tidak dapat dipisahkan dari kajian makna bahasa. Oleh karena itu, kajian makna bahasa yang dilakukan kelompok ini memperhitungkan konteks penggunaan bahasa. Kecenderungan ini, misalnya tampak dalam kajian Pragmatik (Pragmatics).
Berdasarkan kedua kecenderungan ini kita tentu dapat menentukan ke arah mana kajian makna bahasa yang kita lakukan. Mengingat kajian makna bahasa tidak hanya mencakup makna kata dan makna kalimat saja melainkan juga makna ujaran, tentu lebih bijak bagi kita apabila kajian makna bahasa mempertimbangkan kedua kecenderungan itu.
Peran Konteks Situasi, Pemaknaan Bahasa, Budaya dan Majas
Kajian makna bahasa sebagaimana disitir oleh Firth dan Malinowski sulit dipisahkan dari konteks penggunaan bahasa. Mereka, antara lain beranggapan bahwa bahasa merupakan wujud dari tindakan penggunaan bahasa yang bergantung pada situasi penggunaan bahasa.
Dalam memerinci ketergantungan makna bahasa pada konteks situasi berbahasa, para pakar antara lain menyarankan agar ciri-ciri yang melekat pada situasi harus teridentifikasi. Ciri yang menyangkut penutur dan pendengar, tempat bertutur serta objek yang dibicarakan, misalnya merupakan unsur-unsur situasi berbahasa. Kajian yang menekankan pada unsur ini lazimnya tercakup dalam pragmatik.
Kajian lain yang menekankan pada konteks situasi tampak dalam kajian makna bahasa yang kemukakan oleh kaum behaviorist. Bloomfield, misalnya menyatakan bahwa makna bahasa sangat bergantung pada hal ini. Pemaknaan terhadap ujaran sangat ditentukan oleh persepsi pengguna bahasa akan situasi berbahasa yang dihadapinya.
Ciri-ciri situasi berbahasa ini tentu idealnya dapat diwujudkan melalui unsur-unsur kebahasaan. Salah satu contoh upaya penggambaran konteks berbahasa dalam kajian makna adalah lewat penggunaan kata ganti atau yang lazim dikenal dengan deiksis. Deiksis, antara lain menggambarkan unsur-unsur peristiwa berbahasa, seperti aspek waktu, ruang, dan objek berikut peristiwa yang dirujuk dalam penggunaan bahasa.
Tentu saja tidak semua unsur yang melekat pada situasi berbahasa dapat diwujudkan melalui unsur bahasa, kata atau kalimat. Untuk itu, peran nirlinguistik, aspek-aspek di luar bahasa perlu diperhitungkan dalam kajian makna bahasa.
SEMANTIK LEKSIKAL, HUBUNGAN MAKNA, MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
Semantik Leksikal
Makna bahasa sebagaimana terungkap dalam uraian di atas dipengaruhi sekurang-kurangnya oleh hubungan antara bahasa dengan (1) objek atau (2) peristiwa di luar bahasa atau oleh hubungan di antara unsur bahasa dalam suatu sistem bahasa. Kajian makna bahasa yang lebih memusatkan pada peran unsur bahasa atau kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu bahasa lazim disebut sebagai semantik leksikal.
Kajian makna dalam semantik leksikal lebih mendasarkan pada peran makna kata dan hubungan makna yang terjadi antarkata dalam suatu bahasa. Hubungan makna antar kata baik yang bersifat sintagmatik dan paradigmatik kerap digunakan untuk menjawab permasalahan makna kata. Kajian makna kata dalam konteks ini pada gilirannya tentu dapat menjawab permasalahan makna kalimat. Sebab sebagaimana kerap dikemukakan oleh ahli semantik bahwa makna kalimat bergantung pada makna kata yang tercakup dalam kalimat tempat kata itu terangkai. Peran kajian makna kata berdasarkan hubungan makna ini terasa penting mengingat tidak semua makna kata dapat dijelaskan oleh keterkaitannya dengan objek yang digambarkan oleh kata itu. Makna kata-kata yang bersifat abstrak, misalnya hanya mungkin dapat dijelaskan maknanya oleh hubungan makna antarkata dalam suatu bahasa.
Medan Makna dan Komponen Makna
Makna bahasa terutama makna kata dapat kita petakan menurut komponennya. Pandangan seperti ini, tampak dalam teori medan makna yang menyatakan bahwa kosakata dalam suatu bahasa terbentuk dalam kelompok-kelompok kata yang menunjuk kepada lingkup makna tertentu, misalnya perkakas dapur atau nama-nama warna. Dalam suatu medan makna, antara kata yang satu dengan kata lainnya menunjukkan hubungan makna yang dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. Pertama golongan kolokasi yang menggambarkan hubungan sintagmatik antara kata-kata yang terdapat dalam suatu bidang tertentu atau medan tertentu. Kedua golongan ‘set’ yang cenderung menggambarkan hubungan paradigmatik antarkata dalam suatu bidang tertentu.
Untuk menggambarkan hubungan antar kata dalam suatu bidang tertentu dapat diungkapkan melalui komponen makna yang tercakup dalam kata-kata dalam suatu bidang tertentu. Komponen makna menunjukkan bahwa setiap kata maknanya terbentuk dari beberapa unsur atau komponen. Misalnya, kata-kata yang menggambarkan kekerabatan, seperti ‘ayah’, “ibu’, ‘adik’. ‘kakak’ dapat kita lihat komponen maknanya dalam diagram berikut.
Selain untuk menunjukkan hubungan makna antarkata, komponen makna juga berguna, antara lain untuk perumusan makna dalam kamus dan untuk menentukan apakah kalimat yang digunakan dapat diterima atau tidak secara semantik. Tentu saja untuk mengungkapkan komponen makna tersebut perlu dilakukan melalui analisis yang lazim dikenal sebagai analisis komponen makna. Analisis ini dalam kajian semantik leksikal tentu cukup menonjol mengingat manfaatnya yang cukup beragam dalam mengkaji makna kata dan hubungan makna antarkata dalam suatu bahasa.
Sinonimi, Antonimi dan Hiponii
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan:
1. sinonimi;
2. antonimi;
3. hiponimi.
Beberapa istilah yang perlu Anda ingat yang berkaitan dengan ketiga konsep di atas adalah berikut ini.
1. Hubungan sinonimi sempurna dan tidak sempurna
2. Parafrase (paraphrasing).
3. Antonimi biner (binary antonymy).
4. Kebalikan (converses).
5. Antonimi bertingkat (gradable antonymy).
6. Kontradiksi (contradictory).
7. Hipernim/superordinat.
Plosemi
Dalam unit ini kita telah mempelajari 3 konsep penting dalam hubungan makna, yaitu
1. homonimi;
2. polisemi;
3. ambiguitas.
Istilah-istilah yang harus Anda ingat adalah:
1. homograf;
2. homofon;
3. structural ambiguity;
4. lexical ambiguity.
SEMANTIK DAN TATA BAHASA (SEMANTICS AND GRAMMAR)
Serbaneka tentang Tata Bahasa
Kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan:
1. tatabahasa formal (formal grammar);
2. tatabahasa nosional (notional grammar);
3. kategori tata bahasa (grammatical categories);
4. tatabahasa dan leksikon (grammar and lexicon);
5. hubungan-hubungan gramatikal (grammatical relations).
Beberapa istilah yang perlu Anda ingat yang berkaitan dengan ketiga konsep di atas adalah:
1. gender, sex, tense, time;
2. countable and uncountable (mass) nouns;
3. surface structure vs deep structure;
4. deep subject/objects;
5. subjects, objects, agents, complements;
6. gramatikal gender;
7. enumeration;
8. interpretive and generative
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Komponen dan kalimat (components and sentence).
2. Tatabahasa kasus (case grammar).
3. Jenis kalimat dan modalitas (sentence types and modality).
Beberapa istilah yang perlu Anda ingat yang berkaitan dengan ketiga konsep di atas adalah berikut ini.
1. Semantic components or semantic properties (komponen-komponen makna).
2. Projection rules (aturan-aturan pemroyeksian).
3. Amalgamation (penggabungan).
4. Paths (jalur).
5. Berbagai istilah yang ada hubungannya dengan tata bahasa kasus, seperti berikut.
a. Agent (pelaku/perantara).
b. Patient (yang dikenai pekerjaan).
c. Instrument (alat untuk melakukan pekerjaan).
d. Cause (penyebab terjadinya sebuah pekerjaan);
e. Experience (yang mengalami proses terjadinya sebuah pekerjaan).
f. benxefactive (yang mendapatkan keberuntungan dari akibat adanya pekerjaan).
g. Locative (tempat terjadinya sebuah pekerjaan).
h. Temporal (waktu terjadinya sebuah pekerjaan).
6. Declarative and statement.
7. Interrogative and question.
8. Imperative and command.
9. Mood and modality: emphatic, period, quotative, report, and indefinite and question
10. Epistemic and deontic.
MAKNA UJARAN
Bahasa Lisan dan Tulisan, Topik dan Komentar, Tindak Tutur, Tindak Lokusi dan Perlokusi
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan dilihat sari sejarah perkembangan kebahasaan manusia, pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, dan cara penyampaian pesan/makna.
2. Hubungan antara topik (topic)dan komentar (comment) dalam ujaran
3. Teori tindak tutur (speech acts) dalam kaitannya dengan makna ujaran
4. Tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi (elocutionary, illocutionary, and perlocutionary acts) dalam hubungannya dengan makna ujaran.
Kondisi Felisitas, Pra Anggapan, Implikatur Percakapan Semantik dan Pengajaran Bahasa
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Kondisi felisitas (felicity conditions) dan hubungannya dengan makna ujaran.
2. Peran praanggapan (presuppositions) dalam membentuk makna ujaran.
3. Peran implikatur percakapan (conversational implicature) dalam membentuk makna ujaran.
4. Peran semantik dalam pengajaran bahasa Inggris.
Sumber buku semantics karya Wahyu Sandayana
Dari uraian di atas; kita dapat menyimpulkan bahwa makna bahasa, khususnya makna kata, terpengaruh oleh berbagai konteks. Makna kata dapat dibangun dalam kaitannya dengan benda atau objek di luar bahasa. Dalam konsepsi ini, kata berperan sebagai label atau pemberi nama pada benda-benda atau objek-objek yang berada di alam semesta. Makna kata juga dapat dibentuk oleh konsepsi atau pembentukan konsepsi yang terjadi dalam pikiran pengguna bahasa. Proses pembentukannya berkait dengan pengetahuan atau persepsi penggunaan bahasa tersebut terhadap fenomena, benda atau peristiwa yang terjadi di luar bahasa. Dalam konteks ini, misalnya penggunaan bahasa akan tidak sama dalam menafsirkan makna kata demokrasi karena persepsi dan konsepsi mereka berbeda terhadap kata itu. Selain kedua konsepsi itu, makna kata juga dapat dibentuk oleh kaitan antara stimulus, kata dengan respons yang terjadi dalam suatu peristiwa ujaran.
Beranjak dari ketiga konsepsi ini maka kajian semantik pada dasarnya sangat bergantung pada dua kecenderungan. Pertama, makna bahasa dipengaruhi oleh konteks di luar bahasa, benda, objek dan peristiwa yang ada di alam semesta. Kedua, kajian makna bahasa ditentukan oleh konteks bahasa, yakni oleh aturan kebahasaan suatu bahasa.
Penamaan
Uraian di atas menunjukkan bahwa beberapa konsep dasar dalam semantik penting untuk dipahami. Contoh, pengertian sense berbeda dari pengertian reference. Pertama, merujuk kepada hubungan antar kata dalam suatu sistem bahasa dilihat dari kaitan maknanya. Sedangkan yang kedua merujuk kepada hubungan antara kata dengan benda, objek atau peristiwa di luar bahasa dalam pembentukan makna kata.
Begitu pula dengan pengertian tentang kalimat, ujaran dan proposisi perlu dipahami dalam kajian antik. Dalam keseharian, kerap tidak kita bedakan atau kalimat dengan ujaran. Kalimat sebagaimana kita pahami satuan tata bahasa yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat. Sedangkan ujaran dapat terdiri dari satu kata, frase atau kalimat yang diujarkan oleh seorang penutur yang ditandai oleh adanya unsur fonologis, yakni kesenyapan. dalam semantik kedua konsep ini memperlihatkan sosok kajian makna yang berbeda. Makna ujaran, misalnya lebih banyak dibahas dalam semantik tindak tutur. Peran konteks pembicaraan dalam mengungkapkan makna ujaran sangat penting. Sementara kajian makna kalimat lazimnya lebih memusatkan pada konteks tatabahasa dan unsur lain yang dapat dicakup dalam tata bahasa dalam bahasa Inggris, misalnya unsur waktu dapat digramatikakan yang terwujud dalam perbedaan bentuk kata kerja.
Mengingat pentingnya konsep-konsep itu, Anda sebagai pembelajar semantik hendaknya mencermati batasan dan penerapan konsep itu dalam kajian makna bahasa.
PERAN KONTEKS DALAM PEMAKNAAN BAHASA
Relativitas Bahasa, Pemaknaan Bahasa
Dari perbincangan kita dalam bagian modul di atas terlihat bahwa bahasa sangat erat kaitannya dengan budaya. Keduanya ibarat dua muka dari satu mata uang. Sebagaimana diyakini oleh sebagian ahli bahasa, language is a part of culture.
Pandangan seperti ini, ternyata berimbas pula pada kajian makna bahasa. Para pakar di bidang semantik cenderung terbagi ke dalam 2 kubu dalam melihat masalah ini. Pertama, kelompok yang menyatakan bahwa kajian makna bahasa seharusnya terlepas dari konteks (dalam cakupan yang luas adalah budaya) mengingat begitu banyak unsur konteks yang tidak dapat diwadahi oleh kaidah semantik. Pandangan ini tentu lebih cenderung dianut oleh pakar yang memusatkan kajiannya pada semantik bahasa (Linguistic Semantics). Para pakar dalam bidang ini lebih cenderung mengkaji makna bahasa hanya dari sisi peran kata dan kaitan antara kata dalam sebuah kalimat dalam membentuk makna bahasa. Kalaupun ada unsur konteks yang dimasukkan ke dalam kajiannya hanya sebatas unsur-unsur dari bahasa, seperti waktu yang dapat digramatikalkan. Dengan demikian, kajiannya cenderung mengurangi konteks penggunaan bahasa.
Kedua, kelompok yang menegaskan bahwa konteks tidak dapat dipisahkan dari kajian makna bahasa. Oleh karena itu, kajian makna bahasa yang dilakukan kelompok ini memperhitungkan konteks penggunaan bahasa. Kecenderungan ini, misalnya tampak dalam kajian Pragmatik (Pragmatics).
Berdasarkan kedua kecenderungan ini kita tentu dapat menentukan ke arah mana kajian makna bahasa yang kita lakukan. Mengingat kajian makna bahasa tidak hanya mencakup makna kata dan makna kalimat saja melainkan juga makna ujaran, tentu lebih bijak bagi kita apabila kajian makna bahasa mempertimbangkan kedua kecenderungan itu.
Peran Konteks Situasi, Pemaknaan Bahasa, Budaya dan Majas
Kajian makna bahasa sebagaimana disitir oleh Firth dan Malinowski sulit dipisahkan dari konteks penggunaan bahasa. Mereka, antara lain beranggapan bahwa bahasa merupakan wujud dari tindakan penggunaan bahasa yang bergantung pada situasi penggunaan bahasa.
Dalam memerinci ketergantungan makna bahasa pada konteks situasi berbahasa, para pakar antara lain menyarankan agar ciri-ciri yang melekat pada situasi harus teridentifikasi. Ciri yang menyangkut penutur dan pendengar, tempat bertutur serta objek yang dibicarakan, misalnya merupakan unsur-unsur situasi berbahasa. Kajian yang menekankan pada unsur ini lazimnya tercakup dalam pragmatik.
Kajian lain yang menekankan pada konteks situasi tampak dalam kajian makna bahasa yang kemukakan oleh kaum behaviorist. Bloomfield, misalnya menyatakan bahwa makna bahasa sangat bergantung pada hal ini. Pemaknaan terhadap ujaran sangat ditentukan oleh persepsi pengguna bahasa akan situasi berbahasa yang dihadapinya.
Ciri-ciri situasi berbahasa ini tentu idealnya dapat diwujudkan melalui unsur-unsur kebahasaan. Salah satu contoh upaya penggambaran konteks berbahasa dalam kajian makna adalah lewat penggunaan kata ganti atau yang lazim dikenal dengan deiksis. Deiksis, antara lain menggambarkan unsur-unsur peristiwa berbahasa, seperti aspek waktu, ruang, dan objek berikut peristiwa yang dirujuk dalam penggunaan bahasa.
Tentu saja tidak semua unsur yang melekat pada situasi berbahasa dapat diwujudkan melalui unsur bahasa, kata atau kalimat. Untuk itu, peran nirlinguistik, aspek-aspek di luar bahasa perlu diperhitungkan dalam kajian makna bahasa.
SEMANTIK LEKSIKAL, HUBUNGAN MAKNA, MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
Semantik Leksikal
Makna bahasa sebagaimana terungkap dalam uraian di atas dipengaruhi sekurang-kurangnya oleh hubungan antara bahasa dengan (1) objek atau (2) peristiwa di luar bahasa atau oleh hubungan di antara unsur bahasa dalam suatu sistem bahasa. Kajian makna bahasa yang lebih memusatkan pada peran unsur bahasa atau kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu bahasa lazim disebut sebagai semantik leksikal.
Kajian makna dalam semantik leksikal lebih mendasarkan pada peran makna kata dan hubungan makna yang terjadi antarkata dalam suatu bahasa. Hubungan makna antar kata baik yang bersifat sintagmatik dan paradigmatik kerap digunakan untuk menjawab permasalahan makna kata. Kajian makna kata dalam konteks ini pada gilirannya tentu dapat menjawab permasalahan makna kalimat. Sebab sebagaimana kerap dikemukakan oleh ahli semantik bahwa makna kalimat bergantung pada makna kata yang tercakup dalam kalimat tempat kata itu terangkai. Peran kajian makna kata berdasarkan hubungan makna ini terasa penting mengingat tidak semua makna kata dapat dijelaskan oleh keterkaitannya dengan objek yang digambarkan oleh kata itu. Makna kata-kata yang bersifat abstrak, misalnya hanya mungkin dapat dijelaskan maknanya oleh hubungan makna antarkata dalam suatu bahasa.
Medan Makna dan Komponen Makna
Makna bahasa terutama makna kata dapat kita petakan menurut komponennya. Pandangan seperti ini, tampak dalam teori medan makna yang menyatakan bahwa kosakata dalam suatu bahasa terbentuk dalam kelompok-kelompok kata yang menunjuk kepada lingkup makna tertentu, misalnya perkakas dapur atau nama-nama warna. Dalam suatu medan makna, antara kata yang satu dengan kata lainnya menunjukkan hubungan makna yang dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. Pertama golongan kolokasi yang menggambarkan hubungan sintagmatik antara kata-kata yang terdapat dalam suatu bidang tertentu atau medan tertentu. Kedua golongan ‘set’ yang cenderung menggambarkan hubungan paradigmatik antarkata dalam suatu bidang tertentu.
Untuk menggambarkan hubungan antar kata dalam suatu bidang tertentu dapat diungkapkan melalui komponen makna yang tercakup dalam kata-kata dalam suatu bidang tertentu. Komponen makna menunjukkan bahwa setiap kata maknanya terbentuk dari beberapa unsur atau komponen. Misalnya, kata-kata yang menggambarkan kekerabatan, seperti ‘ayah’, “ibu’, ‘adik’. ‘kakak’ dapat kita lihat komponen maknanya dalam diagram berikut.
Selain untuk menunjukkan hubungan makna antarkata, komponen makna juga berguna, antara lain untuk perumusan makna dalam kamus dan untuk menentukan apakah kalimat yang digunakan dapat diterima atau tidak secara semantik. Tentu saja untuk mengungkapkan komponen makna tersebut perlu dilakukan melalui analisis yang lazim dikenal sebagai analisis komponen makna. Analisis ini dalam kajian semantik leksikal tentu cukup menonjol mengingat manfaatnya yang cukup beragam dalam mengkaji makna kata dan hubungan makna antarkata dalam suatu bahasa.
Sinonimi, Antonimi dan Hiponii
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan:
1. sinonimi;
2. antonimi;
3. hiponimi.
Beberapa istilah yang perlu Anda ingat yang berkaitan dengan ketiga konsep di atas adalah berikut ini.
1. Hubungan sinonimi sempurna dan tidak sempurna
2. Parafrase (paraphrasing).
3. Antonimi biner (binary antonymy).
4. Kebalikan (converses).
5. Antonimi bertingkat (gradable antonymy).
6. Kontradiksi (contradictory).
7. Hipernim/superordinat.
Plosemi
Dalam unit ini kita telah mempelajari 3 konsep penting dalam hubungan makna, yaitu
1. homonimi;
2. polisemi;
3. ambiguitas.
Istilah-istilah yang harus Anda ingat adalah:
1. homograf;
2. homofon;
3. structural ambiguity;
4. lexical ambiguity.
SEMANTIK DAN TATA BAHASA (SEMANTICS AND GRAMMAR)
Serbaneka tentang Tata Bahasa
Kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan:
1. tatabahasa formal (formal grammar);
2. tatabahasa nosional (notional grammar);
3. kategori tata bahasa (grammatical categories);
4. tatabahasa dan leksikon (grammar and lexicon);
5. hubungan-hubungan gramatikal (grammatical relations).
Beberapa istilah yang perlu Anda ingat yang berkaitan dengan ketiga konsep di atas adalah:
1. gender, sex, tense, time;
2. countable and uncountable (mass) nouns;
3. surface structure vs deep structure;
4. deep subject/objects;
5. subjects, objects, agents, complements;
6. gramatikal gender;
7. enumeration;
8. interpretive and generative
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Komponen dan kalimat (components and sentence).
2. Tatabahasa kasus (case grammar).
3. Jenis kalimat dan modalitas (sentence types and modality).
Beberapa istilah yang perlu Anda ingat yang berkaitan dengan ketiga konsep di atas adalah berikut ini.
1. Semantic components or semantic properties (komponen-komponen makna).
2. Projection rules (aturan-aturan pemroyeksian).
3. Amalgamation (penggabungan).
4. Paths (jalur).
5. Berbagai istilah yang ada hubungannya dengan tata bahasa kasus, seperti berikut.
a. Agent (pelaku/perantara).
b. Patient (yang dikenai pekerjaan).
c. Instrument (alat untuk melakukan pekerjaan).
d. Cause (penyebab terjadinya sebuah pekerjaan);
e. Experience (yang mengalami proses terjadinya sebuah pekerjaan).
f. benxefactive (yang mendapatkan keberuntungan dari akibat adanya pekerjaan).
g. Locative (tempat terjadinya sebuah pekerjaan).
h. Temporal (waktu terjadinya sebuah pekerjaan).
6. Declarative and statement.
7. Interrogative and question.
8. Imperative and command.
9. Mood and modality: emphatic, period, quotative, report, and indefinite and question
10. Epistemic and deontic.
MAKNA UJARAN
Bahasa Lisan dan Tulisan, Topik dan Komentar, Tindak Tutur, Tindak Lokusi dan Perlokusi
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan dilihat sari sejarah perkembangan kebahasaan manusia, pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, dan cara penyampaian pesan/makna.
2. Hubungan antara topik (topic)dan komentar (comment) dalam ujaran
3. Teori tindak tutur (speech acts) dalam kaitannya dengan makna ujaran
4. Tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi (elocutionary, illocutionary, and perlocutionary acts) dalam hubungannya dengan makna ujaran.
Kondisi Felisitas, Pra Anggapan, Implikatur Percakapan Semantik dan Pengajaran Bahasa
Dalam unit ini kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Kondisi felisitas (felicity conditions) dan hubungannya dengan makna ujaran.
2. Peran praanggapan (presuppositions) dalam membentuk makna ujaran.
3. Peran implikatur percakapan (conversational implicature) dalam membentuk makna ujaran.
4. Peran semantik dalam pengajaran bahasa Inggris.
Sumber buku semantics karya Wahyu Sandayana
Strategi Belajar-Mengajar
Dasar-dasar Strategi Belajar-Mengajar
1. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Yang dimaksud dengan strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management(1971 : 8), strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sbb :
a. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha itu yang sesuai dengan aspirasi dan selera masyarakat.
b. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama manakah yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut.
c. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut.
d. Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria dan patokan ukuran yang harus dipergunakan untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan usaha tersebut.
2. Menetapkan Sasaran Kegiatan Belajar-Mengajar dalam Rangka Mengidentifikasi Entering Behavior Siswa
a. Sasaran-Sasaran Kegiatan Belajar-Mengajar
Setiap kegiatan belajar mengajar pasti mempunyai tujuan tertentu. Tujuan tersebut bertahap dan berjenjang mulai dari sangat operasional dan konkret sampai yang bersifat universal. Tujuan itu pada akhirnya harus diterjemahkan dalam ciri-ciri / sifat-sifat wujud perilaku dan pribadi dari manusia yang dicita-citakan. Sistem pendidikan harus melahirkan para warga Negara yang memiliki empat kemampuan, kecakapan dan sifat utama, yaitu :
v Self realization, maksudnya manusia harus mampu mewujudkan dan mengembangkan bakat-bakatnya seoptimal mungkin.
v Human relationship ( hubungan antarinsan )
v Economic efficiency (efisiensi ekonomi
v Civil responsibility, manusia harus memiliki tanggung jawab sebagai warga Negara.
b. Entering Behavior Siswa
Meskipun terdapat keragaman dari berbagai paham dan teori tentang makna perbuatan belajar, namun teori manapun pada akhirnya cenderung untuk sampai pada konsensus bahwa hasil perbuatan belajar itu dimanifestasikan dalam perubahan perilaku dan pribadi baik secara material-substansial, struktural-fungsional, maupun secara behavioral. Tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan belajar mengajar inilah yang dimaksudkan dengan Entering Behavior. Entering Behavior ini akan dapat kita identifikasikan dengan berbagai cara, antara lain :
1. Secara tradisional, lazimnya para guru memulai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahan-bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
2. secara inovatif, guru-guru sudah mulai mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan cara melakukan pre-test sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
Dengan mengetahui gambaran tentang entering behavior, siswa akan memberikan banyak sekali bantuan kepada guru, antara lain :
1) Untuk mengetahui seberapa jauh kesamaan individual antarsiswa dalam taraf kesiapannya, kematangannya, serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai landasan bahan baru.
2) Dengan mengetahui disposisi perilaku siswa tersebut, guru akan dapat mempertimbangkan dan memilih bahan, metode, teknik, dan alat bantu belajar mengajar yang sesuai.
3) Dengan membandingkan nilai hasil pre-test dengan nilai hasil akhir, guru akan memperoleh indikator yang menunjukkan seberapa banyak perubahan perilaku yang terjadi pada siswa.
Mengingat hakikat perubahan perilaku itu dapat berupa penambahan, peningkatan hal-hal baru terhadap hal lama yang telah dikuasai, atau bahkan berupa pengurangan terhadap perilaku lama yang tidak diinginkan (merokok, mencontek, dsb) , maka sekurang-kurangnya ada tiga dimensi dari entering behavior itu yang perlu diketahui guru adalah :
a. Batas-batas cangkupan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai siswa.
b. Tingkatan dan urutan tahapan materi pengetahuan, terutama kawasan pola-pola sambutan atau kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang telah dicapai dan dikuasai siswa.
c. Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psikomorik, proses-proses kognitif, pengalaman, mengingat, berpikir, afektif, emosional, motivasi, dan kebiasaan.
Sebelum merencanakan dan melaksanakan kegiatan mengajar, guru harus dapat menjawab pertanyaan :
a) Sejauh mana batas-batas materi pengetahuan yang telah dikuasai dan diketahui oleh siswa yang akan diajar.
b) Tingkat dan tahap serta jenis kemamupuan manakah yang telah dicapai dan dikuasai siswa yang bersangkutan.
c) Apakah siswa sudah cukup siap dan matang untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan diajarkan.
d) Seberapa jauh motivasi dan minat belajar yang dimiliki oleh siswa sebelum belajar dimulai.
3. Pola-pola Belajar Siswa
a. Mengidentifikasi pola-pola belajar siswa
Gagne (Lefrancois 1975:114-120) mengkategorikan pola-pola belajar siswa ke dalam 8 tipe dimana yang satu merupakan prasyarat bagi yang lainnya/yang lebih tinggi hierarkinya. Kedelapan tipe belajar itu ialah:
• Tipe I:Signal Learning (belajar signal atau tanda, isyarat)
Tipe belajar ini menduduki tahapan hierarki (yang paling dasar). Signal learning dapat didefinisikan sebagai proses penguasaan pola dasar perilaku yang bersifat involunter (tidak disengaja dan didasari tujuannya). Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini ialah diberikan stimulus secara serempak perangsang-perangsang tertentu dengan berulang-ulang.
• Tipe II:Stimulus-Respons Learning (belajar stimulus-respons, sambut rangsang)
Tipe belajar II ini termasuk ke dalam operant or instrumental condition (Kible,1961) atau belajar dengan trial and error (Thorndike). Kondisi yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya tipe belajar ini ialah faktor reinforcement.
• Tipe III:Chaining (mempertautkan) dan tipe IV:Verbal Association (asosiasi verbal)
Kedua tipe belajar ini setaraf, ialah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lainnya. Tipe III berkenaan dengan aspek-aspek perilau psikomotorik dan tipe IV berkenaan dengan aspek-aspek belajar verbal. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya proses belajar ini antara lain secara internal terdapat pada diri siswa harus sudah terkuasai sejumlah satuan-satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Di samping itu, prinsip contiguity, repetition, dan reinforcement masih tetap memegang peranan penting bagi berlangsungnya proses chaining dan association tersebut.
• Tipe V:Discrimination Learning (belajar mengadakan perbedaan)
Dalam tahap belajar ini, siswa mengadakan diskriminasi (seleksi dan pengujian) di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya kemudian memilih pola-pola sambutan yang dipandangnya paling sesuai. Kondisi yang utama untuk dapat berlangsungnya proses belajar ini ialah siswa telah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta memiliki kekayaan pengalaman (pola-pola satuan S-R)
• Tipe VI:Concept Learning (belajar konsep, pengertian)
Berdasarkan pesamaan cirri-ciri adari sekumpulan stimulus dan juga objek-objeknya ia membentuk suatu pengertian atau konsep-konsep. Kondisi utama yang diperlukan bagi proses berlangsungnya belajar tipe ini ialah terkuasainya kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
• Tipe VII:Rule Learning (belajar membuat generalisasi, hukum-hukum)
Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep (pengertian) dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal sehingga siswa dapat membuat konklusi tertentu.
• Tipe VIII:Problem Solving (belajar memecahkan masalah)
Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah (memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik) dengan menggunakan berbagai rule yang telah dikuasainya. Menurut John Dewey (Loree,1970:438-439) dalam bukunya How We Think, proses belajar pemecahan masalah itu berlangsung sebagai berikut:
ü Become aware of the problem (menyadari adanya masalah)
ü Clarifying and defining the problem (menegaskan dan merumuskan masalahnya)
ü Searching for facts and formulating hypotheses (mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis)
ü Evaluating proposed solution (mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan)
ü Experimental verification (mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental, uji coba)
b. Memilih system belajar mengajar (pengajaran)
Dewasa ini, para ahli teori belajar telah mencoba mengambarkan cara pendekatan atau system pengajaran atau proses belajar-mengajar. Diantara berbagai system pengajaran yang banyak menarik perhatian orang akhir-akhir ini ialah:
• Enquiry-Discovery Learning (belajar mencari dan menemukan sendiri)
Dalam system belajar-mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak dalam bentuknya yang final. Siswalah yang diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukannnya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya yaitu stimulasi-perumusan masalah-pengumpulan data-analisis data-verifikasi-generalisasi.
System belajar-mengajar ini dikembangkan oleh Bruner (Lefrancois,1975:121-126). Pendekatan belajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Kelemahannya, antara lain memakan waktu yang banyak dan kalau kurang terpimpin dan terarah, dapat menjurus kepada kekaburan atau materi yang dipelajarinya.
• Expository Learning
Dalam sistem ini, guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik, dan lengkap sehingg asiswa tingal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib. Secara garis besar prosedurnya ialah periapan-petautan-penyajian-evaluasi. Ausubel berpendapat bahwa pada tingkat-tingkat belajar yang lebih tinggi, siswa tidak selau harus mengalami sendiri. Siswa akan mampu dan lebih efisien memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Yang penting siswa dikembangkan penguasaannya atas kerangka konsep-konsep dasar atau pla-pola pengertian dasar tentang sesuatu hal sehingga dapat mengorganisasikan data, informasi, dan pengalaman yang bertalian dengan hal tersebut.
• Mastery learning (belajar tuntas)
Proses belajar yang berorientasi pada prinsip mastery learning ini harus dimulai dengan penguasaan bagian terkecil untuk kemudian baru dapat melanjutkan ke dalam satuan (modul) atau unit berikutnya. Atas dasar itu maka dewasa ini telah dikembangkan system pengajaran berprogram dan juga system pengajaran modul, bahkan Computer Assisted Instruction (CAI). Dengan tercapainya tingkat penguasaan hasil pelajaran yang tinggi, maka akan menunjukkan sikap mental yang sehat pada siswa yang bersangkutan.
• Humanistic Education
Teori belajar ini menitikberatkan pada upaya membantu siswa agar ia sanggup mencapai perwujudan diri (self realization) sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Karakteristik utama metode ini, antara lain bahwa guru hendaknya tidak membuat jarak yang tidak terlalu tajam dengan siswa. Sasaran akhir dari proses belajar mengajar menurut paham ini ialah self actualization yang seoptimal mungkin dari setiap siswa.
c. Pengorganisasian satuan kelompok belajar siswa
Gage dan Barliner (1975:447-450), juga Norman MacKenzie dan rekan-rekannya (UNESCO,1972:126) menyarankan pengorganisasian kelompok belajar siswa ke dalam susunan sebagai berikut:
• N=1. Pada situasi ekstrem, kelompok belajar mungkin hanya terdiri atas seorang siswa atau seorang siswa bekerja individual saja.metode belajarnya bisa disebut dengan tutorial, pengajaran berprogram, studi individual, atau independent study,
• N=2-20. Kelompok belajar kecil, mungkin terdiri atas 2 sampai 20 siswa. Mtode belajar seperti ini biasanya disebut dengan metode diskusi atau seminar.
• N=2-40. Kelompok besar mungkin berkisar antar 20-40 siswa. Metode ini disebut metode belajar mengajar kelas. Metodenya mungkin bervariasi, sesuai dengan kesenangan dan kemampuan guru unuk mengelolanya.
• N=40 lebih besar atau ukuran kelompok melebihi 40 orang. Metode belajar-mengajar lazim disebut (ceramah) atau the lecture.
4. Beberapa metode dan Teknik Mengajar
Sejak ratusan tahun yang lalu, orang telah mengembangkan berbagai metode dan teknik mengajar untuk dapat membantu siswa dalam proses menerima materi pelajaran.
Menurut Joice dan Weil (Gage and Barliner, 1975:444-447) telah mengelompokkan model-model belajar ke dalam empat orientasi, yaitu :
(1) information processing orientation
(2) social-interaction orientation
(3) person orientation
(4) behavior-modification orientation
Beberapa metode mengajar yang banyak digunakan oleh para guru antara lain:
(1) Metode Ceramah
Ceramah atau kuliah merupakan metode belajar tradisional dimana bahan disajikan oleh guru secara monologue sehingga pembicaraan lebih bersifat satu arah. Peran guru lebih banyak dalam hal keaktifannya untuk memberikan materi pelajaran, sementara siswa mendengarkan dengan teliti serta mencatat yang pokok-pokok dari pernyataan yang dikemukakan oleh guru.
(2) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan cara lain dalam belajar-mengajar dimana guru dan siswa, bahkan antarsiswa terlibat dalam suatu proses interaksi secara aktif dan timbal balik dari dua arah.
5. Menetapkan Strategi Evaluasi Belajar Mengajar
Tujuan akhir dari tindakan evaluasi, serta bagaimana mengembangkan dan memilih instrumennya yang memenuhi syarat telah kita bahas dalam unit-unit terdahulu. Yang menjadi persoalan sekarang, kapan pengukuran dan evaluasi itu dilakukan, serta bagaimana menafsirkan hasilnya bagi pengambilan keputusan dan tindak lanjutnya.
a. Beberapa Model Desain Pelaksanaan Evaluasi Belajar
Berdasarkan maksud atau fungsinya, terdapat beberapa model desain pelaksanaan evaluasi belajar-mengajar. Di antaranya ialah evaluasi; sumatif, formatif, refleksi, dan kombinasi dari ketiganya.
Evaluasi sumatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar, atau sering juga kita kenal dengan istilah lain, yaitu post test. Pola evaluasi ini dilakukan kalau kita hanya bermaksud mengetahui tahap perkembangan terakhir dari tingkat pengetahuan atau penguasaan belajar (mastery learning) yang telah dicapai oleh siswa. Asumsi yang mendasarinya ialah bahwa hasl belajar itu merupakan totalitas sejak awal sampai akhir, sehingga hasil akhir itu dapat kita asumsikan dengan hasil. Hasil penilaian ini merupakan indikator mengenai taraf keberhasilan proses belajar-mengajar tersebut. Atas dasar itu, kita dapat menentukan apakah dapat dilanjutkan kepada program baru atau harus diadakan pelajaran ulangan seperlunya.
Evaluasi formatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama masih berjalannya proses kegiatan belajar-mengajar. Mungkin kita baru menyelesaikan bagian-bagian atau unit-unit tertentu dari keseluruhan program atau bahan yang harus diselesaikan. Tujuannya ialah apabila kita menghendaki umpan-balik yang secara (immediate feedback), kelemahan-kelemahan dari proses belajar itu dapat segera diperbaiki sebelum terlanjur dengan kegiatan lebih lanjut yang mungkin akan lebih merugikan, baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri. Bila dibiarkan kesalahan akan berlarut-larut. Dengan kata lain, evaluasi formatif ini lebih bersifat diagnostik untuk keperluan penyembuhan kesulitan-kesulitan atau kelemahan belajar-mengajar (remedial teaching and learning), sedangkan reevaluasi sumatif (EBTA) biasanya lebih berfungsi informatif bagi keperluan pengambilan keputusan, seperti penentuan nilai (grading), dan kelulusan.
Evaluasi reflektif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sebelum proses belajar-menagjar dilakukan atau sering kita kenal dengan sebutan pre-test. Sasaran utama dari evaluasi reflektif ini ialah untuk mendapatkan indikator atau informasi awal tentang kesiapan (readliness) siswa dan disposisi (keadaan taraf penguasaan) bahan atau pola-pola perilaku siswa sebagai dasar penyusunan rencana kegiatan belajar-menagjar dan peramalan tingkat keberhasilan yang mungkin dapat dicapainya setelah menjalani proses belajar-menagjar nantinya. Jadi, evaluasi reflektif lebih bersifat prediktif.
Pengguanaan teknik pelaksanaan evaluasi itu secara kombinasi dapat dan sering juga dilakukan terutama antara reflektif dan sumatif atau model pre-post test design. Tujuan penggunaan model dilaksanakan evaluasi ini ialah apabila kita ingin mengetahui taraf keefektivan proses belajar-mengajar yang bersangkutan. Dengan cara demikian, kita akan mungkin mendeteksi seberapa jauh konstribusi dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar-mengajar tersebut. Sudah barang tentu model ini pun lebih bersifat diagnostik, tetapi lebih komprehensif.
b. Beberapa Cara untuk Menginterprestasikan Hasil Penilaian
Untuk dapat menafsirkan hasil penilaian dari evaluasi yang dilaksanakan, kita perlu patokan atau ukuran baku atau norma. Dalam evaluasi, kita mengenal dua norma yang lazim dipergunakan untuk menumbang taraf keberhasilan belajar-menagjar, yaitu apa yang disebut (1) criterion referenced dan (2) norm referenced, seperti telah disinggung di atas.
Criterion referenced evaluation ( PAP = Penilaian Acuan Patokan ) merupakan cara mempertimbangkan taraf keberhasilan siswa dengan memperbandingkan prestasi yang dicapainya dengan kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu (preestabilished criterion).
Norm referenced evaluation ( PAN = Penilaian Acua Norma) merupakan cara memertimbangkan taraf keberhasilan belajar siswa, dengan jalan memperbandingkan prestasi individual siswa dengan rata-rata prestasi temannya, lazimnya kelompoknya.
Atas dasar kedua norma itulah seseorang dinyatakan lulus atau tidak lulus, atau berhasil atau tidak berhasil (pass-fail). Norma kelulusan itu biasanya disebut batas lulus (passing grade).
Dalam criterion referenced evaluation ( PAP ) angka batas lulus itu lazimnya dipergunakan angka nilai 6 dalam skala 10 atau 60 dalam skala 100, atau 2+ slaam skala -4, atau C dalam skala A-E. adapaun filosofi yang melandasi sistem penilaian ini ialah teory mastery learning, dimana seseorang dapat dianggap memenuhi syarat kecakapannya (qualified) kalau menguasai minimal 60% dari hasil yang diharapkan. Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia persayaratan ini dikenakan terutama terhadap mata pelajaran dasar yang penting yaitu PMP, agama, bahasa Indonesia dan sebaginya, yang berarti bahwa sistem pendidikan di Indonesia sangat mengutamakan pembinaan warga negara yang baik, beragama dan berdasarkan kebudayaan bangsanya.
Dalam norm referenced evaluation ( PAN ), norma itu dapat dipergunakan dengan berbagai cara, misalnya (1) ukuran rata-rata prestasi kelompoknya, (2) ukuran penyebaran nilai prestasi kelasnya, dan (3) ukuran penyimpangan dari ukuran rata-rata prestasi kelompoknya (mean,range, and standard deviation).
PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)
Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut:
Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR
Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan:
1. Expository dan Discovery/Inquiry :
“Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran.
Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik – discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar.
Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:
Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan : Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya.
Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia merigemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.
Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dan sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah.
Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.
Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Discovery dan Inquiry :
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai”
Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan
2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)
3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.
8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi:
1. Menemukan masalah
2. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
4. Perumusan keterangan yang diperoleh
5. Analisis proses inquiry.
3. Pendekatan konsep :
Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah “concept” (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yang dinamakan “konsep”.
Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah “konsep”, yang ditunjukkan melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti : bundar, merah, halus, rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi/batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya iklim, massa, bahasa atau konsep matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui kemampuan kognitif
4. Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered).
Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.
Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
o Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
o Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
o Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.
Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu.
Prinsip-prinsip CBSA:
Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:
a. Dimensi subjek didik :
o Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
o Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
o Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
b. Dimensi Guru
o Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
o Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
o Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
o Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.
o Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
o Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
o Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
o Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
d. Dimensi situasi belajar-mengajar
o Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
o Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
Rambu-rambu CBSA :
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.
a. Berdasarkan pengelompokan siswa :
Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.
b. Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.
c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan :
Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
e. Berdasarkan domein-domein tujuan :
Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.
Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai.
Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut :
a. Rumpun model interaksi sosial
b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik
c. Rumpun model modifikasi tingkah laku.
T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:
1. Pengaturan guru-siswa :
o Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim
o Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.
o Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil
(antara 5 – 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).
2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :
Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung. Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.
3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :
Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru. Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan (discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.
4. Proses pengolahan pesan :
Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.
Pemilihan strategi belajar-mengajar
Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif.
Langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut; Pertama menentukan tujuan dalam arti merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan kwalifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah. Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal.
Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih lemah.
Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah:
1. Efisiensi :
Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal.
Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.
Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.
2. Efektifitas :
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.
3. Kriteria lain :
Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif. Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya.
1. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Yang dimaksud dengan strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management(1971 : 8), strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sbb :
a. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha itu yang sesuai dengan aspirasi dan selera masyarakat.
b. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama manakah yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut.
c. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut.
d. Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria dan patokan ukuran yang harus dipergunakan untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan usaha tersebut.
2. Menetapkan Sasaran Kegiatan Belajar-Mengajar dalam Rangka Mengidentifikasi Entering Behavior Siswa
a. Sasaran-Sasaran Kegiatan Belajar-Mengajar
Setiap kegiatan belajar mengajar pasti mempunyai tujuan tertentu. Tujuan tersebut bertahap dan berjenjang mulai dari sangat operasional dan konkret sampai yang bersifat universal. Tujuan itu pada akhirnya harus diterjemahkan dalam ciri-ciri / sifat-sifat wujud perilaku dan pribadi dari manusia yang dicita-citakan. Sistem pendidikan harus melahirkan para warga Negara yang memiliki empat kemampuan, kecakapan dan sifat utama, yaitu :
v Self realization, maksudnya manusia harus mampu mewujudkan dan mengembangkan bakat-bakatnya seoptimal mungkin.
v Human relationship ( hubungan antarinsan )
v Economic efficiency (efisiensi ekonomi
v Civil responsibility, manusia harus memiliki tanggung jawab sebagai warga Negara.
b. Entering Behavior Siswa
Meskipun terdapat keragaman dari berbagai paham dan teori tentang makna perbuatan belajar, namun teori manapun pada akhirnya cenderung untuk sampai pada konsensus bahwa hasil perbuatan belajar itu dimanifestasikan dalam perubahan perilaku dan pribadi baik secara material-substansial, struktural-fungsional, maupun secara behavioral. Tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan belajar mengajar inilah yang dimaksudkan dengan Entering Behavior. Entering Behavior ini akan dapat kita identifikasikan dengan berbagai cara, antara lain :
1. Secara tradisional, lazimnya para guru memulai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahan-bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
2. secara inovatif, guru-guru sudah mulai mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan cara melakukan pre-test sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
Dengan mengetahui gambaran tentang entering behavior, siswa akan memberikan banyak sekali bantuan kepada guru, antara lain :
1) Untuk mengetahui seberapa jauh kesamaan individual antarsiswa dalam taraf kesiapannya, kematangannya, serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai landasan bahan baru.
2) Dengan mengetahui disposisi perilaku siswa tersebut, guru akan dapat mempertimbangkan dan memilih bahan, metode, teknik, dan alat bantu belajar mengajar yang sesuai.
3) Dengan membandingkan nilai hasil pre-test dengan nilai hasil akhir, guru akan memperoleh indikator yang menunjukkan seberapa banyak perubahan perilaku yang terjadi pada siswa.
Mengingat hakikat perubahan perilaku itu dapat berupa penambahan, peningkatan hal-hal baru terhadap hal lama yang telah dikuasai, atau bahkan berupa pengurangan terhadap perilaku lama yang tidak diinginkan (merokok, mencontek, dsb) , maka sekurang-kurangnya ada tiga dimensi dari entering behavior itu yang perlu diketahui guru adalah :
a. Batas-batas cangkupan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai siswa.
b. Tingkatan dan urutan tahapan materi pengetahuan, terutama kawasan pola-pola sambutan atau kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang telah dicapai dan dikuasai siswa.
c. Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psikomorik, proses-proses kognitif, pengalaman, mengingat, berpikir, afektif, emosional, motivasi, dan kebiasaan.
Sebelum merencanakan dan melaksanakan kegiatan mengajar, guru harus dapat menjawab pertanyaan :
a) Sejauh mana batas-batas materi pengetahuan yang telah dikuasai dan diketahui oleh siswa yang akan diajar.
b) Tingkat dan tahap serta jenis kemamupuan manakah yang telah dicapai dan dikuasai siswa yang bersangkutan.
c) Apakah siswa sudah cukup siap dan matang untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan diajarkan.
d) Seberapa jauh motivasi dan minat belajar yang dimiliki oleh siswa sebelum belajar dimulai.
3. Pola-pola Belajar Siswa
a. Mengidentifikasi pola-pola belajar siswa
Gagne (Lefrancois 1975:114-120) mengkategorikan pola-pola belajar siswa ke dalam 8 tipe dimana yang satu merupakan prasyarat bagi yang lainnya/yang lebih tinggi hierarkinya. Kedelapan tipe belajar itu ialah:
• Tipe I:Signal Learning (belajar signal atau tanda, isyarat)
Tipe belajar ini menduduki tahapan hierarki (yang paling dasar). Signal learning dapat didefinisikan sebagai proses penguasaan pola dasar perilaku yang bersifat involunter (tidak disengaja dan didasari tujuannya). Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini ialah diberikan stimulus secara serempak perangsang-perangsang tertentu dengan berulang-ulang.
• Tipe II:Stimulus-Respons Learning (belajar stimulus-respons, sambut rangsang)
Tipe belajar II ini termasuk ke dalam operant or instrumental condition (Kible,1961) atau belajar dengan trial and error (Thorndike). Kondisi yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya tipe belajar ini ialah faktor reinforcement.
• Tipe III:Chaining (mempertautkan) dan tipe IV:Verbal Association (asosiasi verbal)
Kedua tipe belajar ini setaraf, ialah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lainnya. Tipe III berkenaan dengan aspek-aspek perilau psikomotorik dan tipe IV berkenaan dengan aspek-aspek belajar verbal. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya proses belajar ini antara lain secara internal terdapat pada diri siswa harus sudah terkuasai sejumlah satuan-satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Di samping itu, prinsip contiguity, repetition, dan reinforcement masih tetap memegang peranan penting bagi berlangsungnya proses chaining dan association tersebut.
• Tipe V:Discrimination Learning (belajar mengadakan perbedaan)
Dalam tahap belajar ini, siswa mengadakan diskriminasi (seleksi dan pengujian) di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya kemudian memilih pola-pola sambutan yang dipandangnya paling sesuai. Kondisi yang utama untuk dapat berlangsungnya proses belajar ini ialah siswa telah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta memiliki kekayaan pengalaman (pola-pola satuan S-R)
• Tipe VI:Concept Learning (belajar konsep, pengertian)
Berdasarkan pesamaan cirri-ciri adari sekumpulan stimulus dan juga objek-objeknya ia membentuk suatu pengertian atau konsep-konsep. Kondisi utama yang diperlukan bagi proses berlangsungnya belajar tipe ini ialah terkuasainya kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
• Tipe VII:Rule Learning (belajar membuat generalisasi, hukum-hukum)
Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep (pengertian) dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal sehingga siswa dapat membuat konklusi tertentu.
• Tipe VIII:Problem Solving (belajar memecahkan masalah)
Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah (memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik) dengan menggunakan berbagai rule yang telah dikuasainya. Menurut John Dewey (Loree,1970:438-439) dalam bukunya How We Think, proses belajar pemecahan masalah itu berlangsung sebagai berikut:
ü Become aware of the problem (menyadari adanya masalah)
ü Clarifying and defining the problem (menegaskan dan merumuskan masalahnya)
ü Searching for facts and formulating hypotheses (mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis)
ü Evaluating proposed solution (mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan)
ü Experimental verification (mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental, uji coba)
b. Memilih system belajar mengajar (pengajaran)
Dewasa ini, para ahli teori belajar telah mencoba mengambarkan cara pendekatan atau system pengajaran atau proses belajar-mengajar. Diantara berbagai system pengajaran yang banyak menarik perhatian orang akhir-akhir ini ialah:
• Enquiry-Discovery Learning (belajar mencari dan menemukan sendiri)
Dalam system belajar-mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak dalam bentuknya yang final. Siswalah yang diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukannnya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya yaitu stimulasi-perumusan masalah-pengumpulan data-analisis data-verifikasi-generalisasi.
System belajar-mengajar ini dikembangkan oleh Bruner (Lefrancois,1975:121-126). Pendekatan belajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Kelemahannya, antara lain memakan waktu yang banyak dan kalau kurang terpimpin dan terarah, dapat menjurus kepada kekaburan atau materi yang dipelajarinya.
• Expository Learning
Dalam sistem ini, guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik, dan lengkap sehingg asiswa tingal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib. Secara garis besar prosedurnya ialah periapan-petautan-penyajian-evaluasi. Ausubel berpendapat bahwa pada tingkat-tingkat belajar yang lebih tinggi, siswa tidak selau harus mengalami sendiri. Siswa akan mampu dan lebih efisien memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Yang penting siswa dikembangkan penguasaannya atas kerangka konsep-konsep dasar atau pla-pola pengertian dasar tentang sesuatu hal sehingga dapat mengorganisasikan data, informasi, dan pengalaman yang bertalian dengan hal tersebut.
• Mastery learning (belajar tuntas)
Proses belajar yang berorientasi pada prinsip mastery learning ini harus dimulai dengan penguasaan bagian terkecil untuk kemudian baru dapat melanjutkan ke dalam satuan (modul) atau unit berikutnya. Atas dasar itu maka dewasa ini telah dikembangkan system pengajaran berprogram dan juga system pengajaran modul, bahkan Computer Assisted Instruction (CAI). Dengan tercapainya tingkat penguasaan hasil pelajaran yang tinggi, maka akan menunjukkan sikap mental yang sehat pada siswa yang bersangkutan.
• Humanistic Education
Teori belajar ini menitikberatkan pada upaya membantu siswa agar ia sanggup mencapai perwujudan diri (self realization) sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Karakteristik utama metode ini, antara lain bahwa guru hendaknya tidak membuat jarak yang tidak terlalu tajam dengan siswa. Sasaran akhir dari proses belajar mengajar menurut paham ini ialah self actualization yang seoptimal mungkin dari setiap siswa.
c. Pengorganisasian satuan kelompok belajar siswa
Gage dan Barliner (1975:447-450), juga Norman MacKenzie dan rekan-rekannya (UNESCO,1972:126) menyarankan pengorganisasian kelompok belajar siswa ke dalam susunan sebagai berikut:
• N=1. Pada situasi ekstrem, kelompok belajar mungkin hanya terdiri atas seorang siswa atau seorang siswa bekerja individual saja.metode belajarnya bisa disebut dengan tutorial, pengajaran berprogram, studi individual, atau independent study,
• N=2-20. Kelompok belajar kecil, mungkin terdiri atas 2 sampai 20 siswa. Mtode belajar seperti ini biasanya disebut dengan metode diskusi atau seminar.
• N=2-40. Kelompok besar mungkin berkisar antar 20-40 siswa. Metode ini disebut metode belajar mengajar kelas. Metodenya mungkin bervariasi, sesuai dengan kesenangan dan kemampuan guru unuk mengelolanya.
• N=40 lebih besar atau ukuran kelompok melebihi 40 orang. Metode belajar-mengajar lazim disebut (ceramah) atau the lecture.
4. Beberapa metode dan Teknik Mengajar
Sejak ratusan tahun yang lalu, orang telah mengembangkan berbagai metode dan teknik mengajar untuk dapat membantu siswa dalam proses menerima materi pelajaran.
Menurut Joice dan Weil (Gage and Barliner, 1975:444-447) telah mengelompokkan model-model belajar ke dalam empat orientasi, yaitu :
(1) information processing orientation
(2) social-interaction orientation
(3) person orientation
(4) behavior-modification orientation
Beberapa metode mengajar yang banyak digunakan oleh para guru antara lain:
(1) Metode Ceramah
Ceramah atau kuliah merupakan metode belajar tradisional dimana bahan disajikan oleh guru secara monologue sehingga pembicaraan lebih bersifat satu arah. Peran guru lebih banyak dalam hal keaktifannya untuk memberikan materi pelajaran, sementara siswa mendengarkan dengan teliti serta mencatat yang pokok-pokok dari pernyataan yang dikemukakan oleh guru.
(2) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan cara lain dalam belajar-mengajar dimana guru dan siswa, bahkan antarsiswa terlibat dalam suatu proses interaksi secara aktif dan timbal balik dari dua arah.
5. Menetapkan Strategi Evaluasi Belajar Mengajar
Tujuan akhir dari tindakan evaluasi, serta bagaimana mengembangkan dan memilih instrumennya yang memenuhi syarat telah kita bahas dalam unit-unit terdahulu. Yang menjadi persoalan sekarang, kapan pengukuran dan evaluasi itu dilakukan, serta bagaimana menafsirkan hasilnya bagi pengambilan keputusan dan tindak lanjutnya.
a. Beberapa Model Desain Pelaksanaan Evaluasi Belajar
Berdasarkan maksud atau fungsinya, terdapat beberapa model desain pelaksanaan evaluasi belajar-mengajar. Di antaranya ialah evaluasi; sumatif, formatif, refleksi, dan kombinasi dari ketiganya.
Evaluasi sumatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar, atau sering juga kita kenal dengan istilah lain, yaitu post test. Pola evaluasi ini dilakukan kalau kita hanya bermaksud mengetahui tahap perkembangan terakhir dari tingkat pengetahuan atau penguasaan belajar (mastery learning) yang telah dicapai oleh siswa. Asumsi yang mendasarinya ialah bahwa hasl belajar itu merupakan totalitas sejak awal sampai akhir, sehingga hasil akhir itu dapat kita asumsikan dengan hasil. Hasil penilaian ini merupakan indikator mengenai taraf keberhasilan proses belajar-mengajar tersebut. Atas dasar itu, kita dapat menentukan apakah dapat dilanjutkan kepada program baru atau harus diadakan pelajaran ulangan seperlunya.
Evaluasi formatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama masih berjalannya proses kegiatan belajar-mengajar. Mungkin kita baru menyelesaikan bagian-bagian atau unit-unit tertentu dari keseluruhan program atau bahan yang harus diselesaikan. Tujuannya ialah apabila kita menghendaki umpan-balik yang secara (immediate feedback), kelemahan-kelemahan dari proses belajar itu dapat segera diperbaiki sebelum terlanjur dengan kegiatan lebih lanjut yang mungkin akan lebih merugikan, baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri. Bila dibiarkan kesalahan akan berlarut-larut. Dengan kata lain, evaluasi formatif ini lebih bersifat diagnostik untuk keperluan penyembuhan kesulitan-kesulitan atau kelemahan belajar-mengajar (remedial teaching and learning), sedangkan reevaluasi sumatif (EBTA) biasanya lebih berfungsi informatif bagi keperluan pengambilan keputusan, seperti penentuan nilai (grading), dan kelulusan.
Evaluasi reflektif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sebelum proses belajar-menagjar dilakukan atau sering kita kenal dengan sebutan pre-test. Sasaran utama dari evaluasi reflektif ini ialah untuk mendapatkan indikator atau informasi awal tentang kesiapan (readliness) siswa dan disposisi (keadaan taraf penguasaan) bahan atau pola-pola perilaku siswa sebagai dasar penyusunan rencana kegiatan belajar-menagjar dan peramalan tingkat keberhasilan yang mungkin dapat dicapainya setelah menjalani proses belajar-menagjar nantinya. Jadi, evaluasi reflektif lebih bersifat prediktif.
Pengguanaan teknik pelaksanaan evaluasi itu secara kombinasi dapat dan sering juga dilakukan terutama antara reflektif dan sumatif atau model pre-post test design. Tujuan penggunaan model dilaksanakan evaluasi ini ialah apabila kita ingin mengetahui taraf keefektivan proses belajar-mengajar yang bersangkutan. Dengan cara demikian, kita akan mungkin mendeteksi seberapa jauh konstribusi dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar-mengajar tersebut. Sudah barang tentu model ini pun lebih bersifat diagnostik, tetapi lebih komprehensif.
b. Beberapa Cara untuk Menginterprestasikan Hasil Penilaian
Untuk dapat menafsirkan hasil penilaian dari evaluasi yang dilaksanakan, kita perlu patokan atau ukuran baku atau norma. Dalam evaluasi, kita mengenal dua norma yang lazim dipergunakan untuk menumbang taraf keberhasilan belajar-menagjar, yaitu apa yang disebut (1) criterion referenced dan (2) norm referenced, seperti telah disinggung di atas.
Criterion referenced evaluation ( PAP = Penilaian Acuan Patokan ) merupakan cara mempertimbangkan taraf keberhasilan siswa dengan memperbandingkan prestasi yang dicapainya dengan kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu (preestabilished criterion).
Norm referenced evaluation ( PAN = Penilaian Acua Norma) merupakan cara memertimbangkan taraf keberhasilan belajar siswa, dengan jalan memperbandingkan prestasi individual siswa dengan rata-rata prestasi temannya, lazimnya kelompoknya.
Atas dasar kedua norma itulah seseorang dinyatakan lulus atau tidak lulus, atau berhasil atau tidak berhasil (pass-fail). Norma kelulusan itu biasanya disebut batas lulus (passing grade).
Dalam criterion referenced evaluation ( PAP ) angka batas lulus itu lazimnya dipergunakan angka nilai 6 dalam skala 10 atau 60 dalam skala 100, atau 2+ slaam skala -4, atau C dalam skala A-E. adapaun filosofi yang melandasi sistem penilaian ini ialah teory mastery learning, dimana seseorang dapat dianggap memenuhi syarat kecakapannya (qualified) kalau menguasai minimal 60% dari hasil yang diharapkan. Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia persayaratan ini dikenakan terutama terhadap mata pelajaran dasar yang penting yaitu PMP, agama, bahasa Indonesia dan sebaginya, yang berarti bahwa sistem pendidikan di Indonesia sangat mengutamakan pembinaan warga negara yang baik, beragama dan berdasarkan kebudayaan bangsanya.
Dalam norm referenced evaluation ( PAN ), norma itu dapat dipergunakan dengan berbagai cara, misalnya (1) ukuran rata-rata prestasi kelompoknya, (2) ukuran penyebaran nilai prestasi kelasnya, dan (3) ukuran penyimpangan dari ukuran rata-rata prestasi kelompoknya (mean,range, and standard deviation).
PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)
Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut:
Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR
Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan:
1. Expository dan Discovery/Inquiry :
“Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran.
Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik – discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar.
Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:
Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan : Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya.
Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia merigemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.
Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dan sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah.
Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.
Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Discovery dan Inquiry :
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai”
Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan
2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)
3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.
8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi:
1. Menemukan masalah
2. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
4. Perumusan keterangan yang diperoleh
5. Analisis proses inquiry.
3. Pendekatan konsep :
Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah “concept” (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yang dinamakan “konsep”.
Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah “konsep”, yang ditunjukkan melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti : bundar, merah, halus, rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi/batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya iklim, massa, bahasa atau konsep matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui kemampuan kognitif
4. Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered).
Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.
Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
o Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
o Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
o Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.
Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu.
Prinsip-prinsip CBSA:
Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:
a. Dimensi subjek didik :
o Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
o Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
o Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
b. Dimensi Guru
o Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
o Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
o Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
o Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.
o Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
o Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
o Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
o Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
d. Dimensi situasi belajar-mengajar
o Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
o Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
Rambu-rambu CBSA :
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.
a. Berdasarkan pengelompokan siswa :
Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.
b. Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.
c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan :
Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
e. Berdasarkan domein-domein tujuan :
Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.
Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai.
Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut :
a. Rumpun model interaksi sosial
b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik
c. Rumpun model modifikasi tingkah laku.
T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:
1. Pengaturan guru-siswa :
o Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim
o Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.
o Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil
(antara 5 – 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).
2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :
Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung. Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.
3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :
Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru. Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan (discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.
4. Proses pengolahan pesan :
Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.
Pemilihan strategi belajar-mengajar
Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif.
Langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut; Pertama menentukan tujuan dalam arti merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan kwalifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah. Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal.
Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih lemah.
Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah:
1. Efisiensi :
Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal.
Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.
Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.
2. Efektifitas :
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.
3. Kriteria lain :
Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif. Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya.
Langganan:
Entri (Atom)
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Diberdayakan oleh Blogger.
oBAT rIEUT ...........!!
Artikel SMS Lucu - Kumpulan SMS Lucu Lengkap dikutip dari blog berita - kisaranku. Anda bebas mempublikasikan ulang artikel ini asalkan dengan selalu mencantumkan nama sumber, dan link orisinal ke blog kisaranku.blogspot.com. Kunjungi juga koleksi sms lucu dan tulisan menarik lainnya. Trims.
Penelitian juga bilang kalau orang yang sangat irit tertawa lebih sering mengidap sakit jantung. Soalnya ketika kita tertawa, paru paru dan tubuh akan penuh dengan oksigen. dan tentunya saluran pernafasan akan dibersihkan secara alami oleh tubuh. He..he Oleh sebab itu, semoga beberapa kumpulan sms lucu ini bermanfaat.
Sebagian dari tulisan ini mungkin sudah pernah ditulis di beberapa blog dan forum yang lain, tapi sebisa mungkin saya cari yang agak jarang dikeluarkan.
Selamat menikmati, oh ya sebagai bonus. Boleh juga mampir ke koleksi gambar lucu yang sudah diterbitkan sebelumnya.
===========================================
Seorang nenek yang nyebrang jalan hampir ketabrak motor.
Pengendara motor marah : "Nenek bego! Nyebrang jalan gak liat2!"
Nenek sewot : "Lo yg bego!! Nabrak nenek-nenek aja gak kena..!!"
==============================
IF u need ADVICE, message me.
If u need FRIEND, call me.
If u need HELP, e-mail me.
If u need MONEY, nomor yg anda tuju tidak dapat dihubungi. terima kasih.
=================================
Ketika masih sekolah kusadari, "Rajin Pangkal Pandai". Saat sudah bekerja kuyakini, "Hemat Pangkal Kaya". Setelah menikah kurasakan, "Nikmatnya Pangkal Paha"
==============================
"Barang siapa yang menghambur-hamburkan SMS-mu dan menggunakan Pulsamu dengan sia-sia maka merugilah mereka dihari penagihannya". (An-Nokia ; ayat 3310).
=========================================
Orang Kalau Kentut
Orang Amerika kentut bilang, "EXCUSE ME". Orang Inggris kentut
bilang, "PARDON ME". Orang Singapore kentut bilang, "I'M SORRY". Kalo
Orang Indonesia kentut, pasti bilang, "NOT ME!! NOT ME!!"
===========================================
Kalo bahasa inggrisnya beras adalah rice
Kalo bahasa inggrisnya panjang adalah long
Jadi, K'lo bahasa inggrisnya beras panjang adalah LONGTONG
===================================
When i see baby, i remember "TEDDY BEAR DOLL".
When i see a little girl, i remember "BARBIE DOLL".
But when i see u, i remember "PANADOL"
=======================================
Sifat cowok :
1. Kreatif
2. Ambisius
3. Modern
4. Pesimis
5. Radikal
6. Eksotik
7. Tangguh
Kalau di singkat, sifat cowok itu K.A.M.P.R.E. T.
======================================
Berita hari ini:
Seorang ibu & anaknya tewas akibat tersambar petir.
Kini polisi sedang berusaha untuk mengejar petir tsb
=========================================================
SELAMAT!!!!
Anda mendapatkan kado dari Digital LG!!
Pilih yg anda suka :
1. Digi-Last Mobil
2. Digi-Link Truk
3. Digi-Ring Polisi
4. Digi-Git Anjing
5. Digi-Lir Banci
======================================
Aku merasa SIMPATI padamu, karena km ibarat MENTARI yang sinarnya membuat hatiku sebening XL, dan aku bisa BEBAS mencintaimu, sepu-AS hatiku, dan kamu pantas di acungi JEMPOL, karena dari segi fisik kamu adalah cowok yang sangat FLEXI-bel. Oleh sebab itu kamu menjadi FRENS-ku sampai saat ini, sayang!!
==============================================
TEST MATA:
$
dolar. . . .
¥
Yen. . . .
£
Euro. . . .
Rp.
Rupiah. . . .
hasil test mata:
ANDA POSITIF MATA DUITAN. . .
======================================
"Ya, Tuhan... ampunilah yg baca sms ini, ia jarang berdoa! Hobinya hanya baca dan kirim sms aja."
=======================================
Cara Awet Muda, yaitu :
1. Banyak minum air kelapa muda.
2. Minum jamu awet muda.
3. Makan "Daun Muda".
4. Punya "Istri Muda".
====================================
mw tau alasan knp aq sms qm...??
4% mw tw kabar
3% perhatian
2% kangen
1% peduli
90% sayang
iya,sayang banget!!!
sayang banget kalo sms gratis ga dimanfaatin!!!
hehehe...
=============================
Pagi ini..
Aku tak sanggup makan,karna ingat kamu..
Siang ini..
Ku tak enak makan,karna kangen kamu..
Malam ini..
Aku tak bisa tidur karna...
LAPPAARRR!!!
=========================
.+""+..--.
( |==O==,===:::
'+..+"'--''
Q mænkn gitar utk mu,
Q nyanyikan lagu..!!
Nina bo2k oh Nina bo2k..
kLo tdk bo2k.. Q yg bo2k..!!
Good Night, met bo2k ya...
=======================================
cinta itu buta, buta itu gelap, gelap itu hitam, hitam itu monyet, monyet itu yang baca sms ini.
===============================
..--""""""""""""""""|
/__ SMS GRatis. |
'-o-""""""""o""o"""
dren.. dren.. dren..
tiiid.. tiiid.. tiiid...
Awas... Sms Gratis mo lewat!
====================================
Pandangilah langit sebagai kebesaran tuhan, pandangilah laut sebagai anugrah tuhan, dan pandangilah cermin sebagai KUTUKAN TUHAN.
=======================================
Aku Ingin Katakan Something To U Tapi Jangan Marah Yah! Jangan sampai pershabatan kita rusak.
Aq Tau ini Terlalu Cepat Sebelum Aku Terlambat dan Sebelum Orang Lain Katakan PadaMu Lebih Baik
Aku Katakan Sekarang kalo aku ingin bilang 1 2 3 jangan lupa pipis dulu kalo mau bobo'...!!!
=======================================
Dinyanyikan dengan nada balonku ada lima
Sapiku ada lima
rupa-rupa warnanya
hitam putih kelabu
yang dua enggak tau
Sapiku hilang empat..aw..
hatiku sangat kacau
sapiku tinggal satu
mukanya kayak kamu
=========================
Carilah istri yang SALEHA (Suka Lupa Pake Beha) agar jadi SAKINAH (Sekali Kena Ingin Nambah) & jadilah suami yang SIAGA (Siap Antem Pakai Gaya Apa Saja).
=================================
Kita jangan jadi Generasi P18:
Pergi Pagi Pulang Petang Pala Pusing Perut Perih
Pinggang Pegal Pegal Pantat Panas Penis Penyakitan
Penghasilan Pas Pasan
==================
Pohon Pisang,Pohon Palem
Tadi siang,sekarang malem
Pohon palem di seruduk kebo
Met malam, kebo...
==================
Setelah JABOTABEK pemerintah akan membuat program 3 kota bersaudara ( Three sister cities ) yaitu NGAWI - CENGKARENG - CIOMAS yang apabila disingkat menjadi NGACENGMAS ....
=======================================
Menurut penelitian terbaru oleh para ahli kedokteran, ternyata 100 % penyebab kematian seseorang adalah jantung, yaitu JANTUNGNYA BERHENTI BERDENYUT
======================================
SMS lucu ini diambil dari berbagai sumber.
PS: Baca aturan pakai, semoga gak ada yang tersingggung. he..he.
Komentar, opini, dan pendapat bebas untuk ditulis dikotak komentar.




